Internationalmedia.co.id – News – Pakistan telah mengambil langkah militer signifikan dengan mengerahkan armada jet tempurnya ke Arab Saudi. Ini menandai implementasi militer nyata pertama di bawah pakta pertahanan bersama yang mengikat kedua negara. Pengerahan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak, saat Pakistan sendiri menjadi tuan rumah pembicaraan krusial untuk mengamankan gencatan senjata yang sangat rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa pesawat-pesawat tersebut, yang terdiri dari jet tempur dan jet pendukung, telah mendarat dengan selamat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Provinsi Timur Arab Saudi, pada hari Sabtu. Langkah ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan demonstrasi komitmen pertahanan yang kuat dari Islamabad kepada Riyadh.

Pengerahan ini berakar pada perjanjian pertahanan bersama yang ditandatangani pada September 2025. Pakta tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya, sebuah klausul yang mengikat Islamabad dan Riyadh dalam ikatan pertahanan yang erat. Penandatanganan perjanjian bersejarah ini dilakukan saat Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berkunjung ke Riyadh dan bertemu dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.
Ironisnya, saat jet-jet tempur Pakistan tiba di kerajaan, Islamabad tengah disibukkan dengan upaya diplomatik tingkat tinggi, memfasilitasi negosiasi langsung antara Washington dan Teheran. Situasi ini muncul setelah Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap target yang diklaim sebagai aset AS di negara-negara Teluk. Serangan balasan Iran ini merupakan respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei oleh pasukan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Pakistan, dengan posisi geopolitiknya yang unik, harus menyeimbangkan komitmennya di kedua sisi konflik yang kompleks ini. Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, pada awal Maret, secara tegas telah memperingatkan para pemimpin Iran mengenai kewajiban Islamabad kepada Riyadh berdasarkan perjanjian pertahanan tersebut. Meskipun Iran sempat meminta jaminan bahwa wilayah Saudi tidak akan digunakan sebagai landasan serangan terhadapnya, dan Dar mengklaim telah mengamankan jaminan itu.
Namun, serangan Iran terhadap target di Arab Saudi terus berlanjut, menyasar pangkalan-pangkalan penting dan bahkan gedung kedutaan AS. Untuk mengatasi eskalasi ini, Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, terbang ke Riyadh pada awal Maret untuk berdiskusi langsung mengenai langkah-langkah konkret dalam menghentikan agresi Iran dalam kerangka pakta pertahanan.
Empat hari sebelum pengerahan jet tempur pada Sabtu lalu, PM Sharif secara pribadi menelepon Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menegaskan kembali janji Pakistan untuk berdiri ‘bahu-membahu’ dengan kerajaan tersebut. Sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral, kedua negara juga menyepakati percepatan paket investasi Saudi senilai USD 5 miliar yang telah dijanjikan untuk Pakistan. Langkah ini menegaskan bahwa komitmen pertahanan Pakistan bukan hanya retorika, melainkan didukung oleh tindakan militer dan diplomasi ekonomi yang strategis di tengah gejolak regional.

