Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai titik temu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa perbedaan fundamental terkait program pengayaan uranium Iran menjadi batu sandungan utama. Teheran mengajukan tawaran pembekuan selama lima tahun, namun Washington menuntut komitmen yang jauh lebih panjang, yakni dua dekade. Kegagalan ini bahkan mendorong Presiden AS Donald Trump untuk memerintahkan blokade pelabuhan Iran.
Menurut laporan eksklusif dari New York Times (NYT) yang dikutip TRT World pada Selasa (14/4/2026), informasi krusial ini berasal dari sejumlah pejabat tinggi AS dan Iran yang terlibat langsung dalam negosiasi tersebut. Washington, melalui delegasinya, secara tegas mendesak Iran untuk membekukan program pengayaan uraniumnya selama dua puluh tahun penuh. Namun, Teheran, dalam respons resminya yang disampaikan pada Senin (13/4), hanya bersedia menawarkan jeda selama lima tahun. Proposal Iran ini, sebagaimana diungkapkan seorang pejabat AS kepada NYT, langsung ditolak mentah-mentah oleh Presiden Donald Trump.

Selain durasi pembekuan, AS juga menuntut pemindahan seluruh pasokan uranium yang telah diperkaya secara signifikan keluar dari wilayah Iran. Namun, Teheran menolak keras tuntutan tersebut. Sebaliknya, Iran bersikeras untuk mempertahankan stok uraniumnya di dalam negeri, dengan janji untuk mengencerkannya hingga tingkat yang tidak memungkinkan untuk pengembangan senjata nuklir.
Kekhawatiran utama Washington adalah bahwa Iran tetap akan memiliki kapabilitas untuk melanjutkan pengayaan uranium di kemudian hari, meskipun telah diencerkan. Laporan NYT juga mengindikasikan bahwa diskusi mengenai putaran negosiasi tatap muka berikutnya masih terus berjalan, meski belum ada tanggal pasti yang disepakati.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington dalam perundingan di Pakistan, memberikan sedikit gambaran positif. Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/4), Vance menyatakan bahwa ada "sejumlah percakapan yang baik" dan menyebut "bola kini berada di tangan Iran". Ia mengakui adanya kemauan dari Teheran untuk menyesuaikan posisi, namun menegaskan bahwa "belum bergerak cukup jauh" untuk mencapai kesepakatan. Vance menyerahkan sepenuhnya pertanyaan mengenai prospek kelanjutan negosiasi kepada pihak Iran.

