Manila – Internationalmedia.co.id – News – Filipina melancarkan tuduhan serius terhadap nelayan Tiongkok, menuding mereka telah menuangkan sianida ke perairan sekitar Kepulauan Spratly, khususnya di Second Thomas Shoal. Area ini merupakan titik panas konflik yang disengketakan di Laut China Selatan, yang kerap menjadi lokasi konfrontasi sengit dengan kapal-kapal Beijing.
Dewan Keamanan Nasional Filipina (NSC) menyatakan bahwa aksi peracunan ini dimulai sejak tahun lalu di sekitar Second Thomas Shoal, yang oleh Filipina disebut Ayungin Shoal. Lokasi ini strategis, dekat dengan jalur pelayaran vital dan diyakini kaya akan sumber daya mineral.

Cornelio Valencia, asisten direktur jenderal NSC, dalam konferensi pers, menegaskan, "Penggunaan sianida di Ayungin Shoal adalah tindakan sabotase yang bertujuan memusnahkan populasi ikan lokal, sehingga merampas sumber makanan penting bagi personel Angkatan Laut kami." Valencia juga menambahkan bahwa tindakan tersebut membahayakan personel Angkatan Laut melalui paparan air terkontaminasi, konsumsi ikan beracun, serta menyebabkan erosi terumbu karang.
Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad, juru bicara Angkatan Laut Filipina, mengungkapkan bahwa pasukannya telah menyita sepuluh botol sianida dari sampan-sampan yang diluncurkan dari kapal penangkap ikan Tiongkok pada Februari, Juli, dan Oktober 2025. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tentara Filipina menyaksikan awak sampan Tiongkok lainnya meracuni perairan dekat Second Thomas Shoal bulan lalu, dan hasil uji air di area tersebut kemudian menunjukkan positif sianida.
Baik Valencia maupun Trinidad secara terang-terangan menuduh bahwa kapal induk para nelayan tersebut beroperasi di bawah naungan Angkatan Laut Tiongkok.
Sebagai respons, Valencia menyatakan bahwa NSC akan menyerahkan laporan insiden ini kepada Kementerian Luar Negeri Filipina pekan depan. Laporan ini diharapkan menjadi dasar untuk melayangkan nota protes diplomatik resmi. Manila juga telah menginstruksikan Angkatan Laut dan Penjaga Pantai untuk meningkatkan patroli guna mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Filipina, menurut Valencia, telah membahas dugaan peracunan ini dengan Tiongkok dalam pertemuan terakhir, namun belum menerima tanggapan resmi. Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Tiongkok belum memberikan komentar langsung.
Tiongkok sendiri mengklaim hampir seluruh perairan Laut China Selatan yang strategis, meskipun ada putusan internasional yang menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum. Manila dan Beijing memiliki sejarah panjang sengketa teritorial maritim di jalur perairan yang sangat diperebutkan ini, termasuk insiden kekerasan pada Juni 2024 di mana personel penjaga pantai Tiongkok menggunakan pisau, tongkat, dan kapak saat menaiki kapal Angkatan Laut Filipina.

