Washington DC – Sebuah laporan mengejutkan dari Wall Street Journal, yang dikutip Internationalmedia.co.id – News, mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump siap mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Hal ini berlaku bahkan jika sebagian besar Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang krusial bagi lalu lintas minyak global, masih tetap tertutup. Trump disebut bersedia menunda operasi rumit untuk membuka kembali jalur tersebut ke masa mendatang.
Menurut laporan WSJ pada Senin (30/3) waktu setempat, yang mengutip para pejabat pemerintahan Trump, Presiden dan para penasihatnya telah mencapai kesimpulan bahwa upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz akan terlalu memakan waktu. Operasi semacam itu diperkirakan akan memperpanjang durasi konflik, jauh melampaui kerangka waktu 4-6 minggu yang sebelumnya ditetapkan oleh Trump.

Sebagai gantinya, Trump dilaporkan memutuskan untuk memprioritaskan penghancuran rudal dan Angkatan Laut Iran. Setelah itu, barulah Washington akan berupaya menekan Teheran secara diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pemblokiran sebagian besar jalur minyak global di Selat Hormuz sendiri merupakan respons Iran atas serangan gabungan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu, yang telah memicu kenaikan harga energi global.
Pada Senin (30/3), Trump sempat menyatakan "kemajuan besar" dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, ia juga melontarkan peringatan keras: jika kesepakatan tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak segera "Dibuka untuk Bisnis", AS akan melanjutkan dengan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi!)".
Meskipun Trump bersikeras bahwa kesepakatan kemungkinan besar akan tercapai, AS justru telah mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah selama sepekan terakhir. Pengerahan ini disinyalir sebagai persiapan untuk potensi operasi darat, yang kemungkinan besar merupakan upaya Washington untuk menekan Teheran agar menyetujui persyaratan yang diajukan AS untuk mengakhiri perang.
Laporan dari New York Times (NYT) lebih lanjut memperumit gambaran ini, menyebutkan bahwa upaya untuk mengakhiri perang diperumit oleh pembunuhan jajaran pemimpin Iran dalam serangan AS dan Israel sejak konflik meletus akhir Februari lalu. Insiden tersebut telah menghambat kemampuan Teheran untuk mengambil keputusan penting.
Kematian puluhan pejabat dan tokoh pemimpin Iran, menurut NYT, juga mempersulit upaya Washington untuk bernegosiasi dengan para pejabat di Teheran yang masih bertahan. Dilaporkan bahwa para negosiator Iran yang tersisa mungkin memiliki pengetahuan yang lebih sedikit tentang potensi konsesi yang bisa diberikan oleh pemerintah mereka.
Ikuti terus perkembangan terkini konflik di Timur Tengah dan analisis mendalamnya hanya di internationalmedia.co.id.

