Internationalmedia.co.id – News – Sebuah perkembangan mengejutkan muncul di tengah ketegangan yang membara antara Israel dan Iran. Dua figur kunci dari Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan telah dihapus dari daftar target serangan Israel. Keputusan krusial ini diambil setelah Pakistan, yang kini memainkan peran vital sebagai mediator, mengajukan permohonan khusus kepada Amerika Serikat.
Laporan awal dari Wall Street Journal (WSJ), yang kemudian dikonfirmasi oleh Reuters dan Al Arabiya pada Jumat (27/3/2026), mengindikasikan bahwa penghapusan nama-nama penting ini bersifat temporer, diperkirakan berlangsung hingga empat atau lima hari. Seorang sumber Pakistan yang dekat dengan diskusi tersebut mengungkapkan kepada Reuters, "Israel memiliki koordinat mereka dan berencana untuk melenyapkan mereka. Kami menyampaikan kepada AS bahwa jika kedua pejabat ini dieliminasi, maka tidak akan ada lagi pihak yang bisa diajak berunding. Oleh karena itu, AS meminta Israel untuk menahan diri."

Pakistan, bersama Mesir dan Turki, kini memegang peran vital sebagai jembatan diplomatik antara Washington dan Teheran, terutama di tengah membekunya saluran komunikasi langsung bagi sebagian besar negara lain. Islamabad secara konsisten mempertahankan kontak langsung dengan kedua belah pihak dan bahkan dipandang sebagai lokasi potensial untuk perundingan damai di masa depan.
Langkah ini merupakan bagian integral dari upaya yang lebih luas untuk meredakan konflik yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu. Iran saat ini sedang meninjau proposal gencatan senjata 15 poin yang diajukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang disalurkan melalui Pakistan.
Menurut sumber kabinet Israel yang mengetahui detailnya, proposal sensitif ini mencakup tuntutan signifikan: penghapusan seluruh stok uranium yang diperkaya tinggi Iran, penghentian penuh program pengayaan uranium, pembatasan ketat pada program rudal balistik, serta penghentian pendanaan bagi sekutu-sekutu regional Teheran.
Meskipun Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS, Menlu Araghchi menegaskan bahwa Teheran memang sedang mengkaji proposal tersebut. Namun, ia juga menekankan bahwa saat ini belum ada niat untuk melakukan pembicaraan yang secara langsung bertujuan mengakhiri perang.
Situasi ini menyoroti betapa rapuhnya upaya diplomasi di tengah gejolak konflik bersenjata, di mana setiap langkah, bahkan penghapusan nama dari daftar target, memiliki implikasi mendalam terhadap potensi perdamaian dan stabilitas regional.
(internationalmedia.co.id)

