Kabar duka menyelimuti ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi, menyusul insiden tragis yang menewaskan dua warga sipil dan melukai tiga lainnya. Peristiwa ini terjadi akibat serpihan yang berjatuhan setelah sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebuah rudal balistik. Insiden memilukan ini dilaporkan terjadi pada Kamis, 26 Maret 2026, sebagaimana diungkapkan oleh kantor media Abu Dhabi dan dilansir Internationalmedia.co.id – News.
Menurut pernyataan resmi dari kantor media Abu Dhabi yang diunggah di platform X, insiden tersebut berpusat di jalan Sweihan. "Pihak berwenang Abu Dhabi telah merespons insiden yang melibatkan serpihan yang berjatuhan di jalan Sweihan, menyusul keberhasilan pencegatan rudal balistik oleh sistem pertahanan udara," demikian bunyi pernyataan tersebut. Lebih lanjut diungkapkan bahwa "insiden ini mengakibatkan meninggalnya dua individu yang identitasnya belum diketahui, serta melukai tiga orang lainnya. Sejumlah kendaraan juga dilaporkan mengalami kerusakan. Informasi tambahan akan disampaikan secara berkala."

Peristiwa tragis di Abu Dhabi ini tak lepas dari eskalasi ketegangan yang memuncak di Timur Tengah. Diketahui, konflik ini berakar pada serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu gelombang perang di kawasan tersebut. Sebagai respons, Iran telah melancarkan serangkaian serangan balasan menggunakan drone dan rudal di berbagai wilayah, termasuk menyasar negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Menyikapi serangkaian agresi ini, Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB pada Rabu (25/3) waktu setempat telah mengeluarkan kecaman keras terhadap "serangan keji" Iran terhadap negara-negara tetangganya di Teluk. Dewan yang beranggotakan 47 negara tersebut juga mendesak agar "ganti rugi" penuh dan cepat diberikan kepada seluruh korban serangan tersebut. Lebih lanjut, Dewan HAM PBB mendukung resolusi yang diajukan oleh enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk ditambah Yordania, yang secara tegas mengutuk tindakan Teheran yang berupaya menutup Selat Hormuz. Resolusi tersebut juga menuntut Iran untuk segera "menghentikan semua serangan tanpa provokasi." Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan vital yang menjadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia.

