Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim mengejutkan bahwa Republik Islam Iran sejatinya tengah terlibat dalam pembicaraan damai, namun enggan mengakuinya secara terbuka. Presiden AS itu bersikukuh bahwa Teheran sangat menginginkan kesepakatan, tetapi dihantui ketakutan akan reaksi keras dari dalam negeri.
"Omong-omong, mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Namun mereka takut untuk mengatakannya, karena mereka pikir mereka akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri," kata Trump, mengutip laporan kantor berita AFP pada Kamis lalu. Ia menambahkan, ancaman tersebut tidak hanya datang dari internal, melainkan juga dari Washington. "Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita," lanjutnya.

Pernyataan Trump ini mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara eksplisit menampik adanya niat untuk bernegosiasi dengan AS. Araghchi menegaskan bahwa kebijakan Teheran saat ini adalah "kelanjutan dari perlawanan" dan tidak ada rencana untuk duduk di meja perundingan.
Araghchi menegaskan kembali bahwa berbicara tentang negosiasi saat ini merupakan bentuk pengakuan atas kekalahan. "Kami tidak berniat untuk bernegosiasi sejauh ini, tidak ada negosiasi yang terjadi, dan saya yakin posisi kami sepenuhnya berdasarkan prinsip," ujarnya, menegaskan pendirian Iran yang tidak akan goyah.
Di sisi lain, Trump seringkali mengklaim bahwa Iran sedang "dihancurkan" dalam konflik yang berkecamuk, meskipun Teheran masih mempertahankan kendali atas jalur minyak krusial di Selat Hormuz. Gedung Putih sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa Trump siap "melepaskan neraka" jika Iran tidak mengakui kekalahan dan menolak perundingan.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengkritik keras Partai Demokrat di AS, menuding mereka berupaya mengalihkan perhatian dari serangkaian keberhasilan operasi militer AS. Ia mengejek desakan Demokrat agar ia meminta persetujuan kongres terkait konflik. "Mereka tidak suka kata ‘perang’, karena Anda seharusnya mendapatkan persetujuan, jadi saya akan menggunakan istilah ‘operasi militer’," ujarnya.
Dengan narasi yang saling bertolak belakang dan posisi yang tak kunjung melunak, ketegangan antara Washington dan Teheran tampaknya masih akan berlanjut. Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan kedua negara yang terus memanas.
Simak juga Video: AS Ultimatum Iran: Damai atau Diserang Lebih Keras! Saksikan informasi terkini lainnya di internationalmedia.co.id.

