Dalam sebuah langkah diplomatik yang mengejutkan, Lebanon secara resmi mencabut akreditasi Duta Besar Iran, Mohammad Reza Shibani, dan menetapkannya sebagai "persona non grata". Ini adalah kabar terbaru dari Internationalmedia.co.id – News. Tidak hanya itu, Beirut juga menarik pulang Duta Besarnya dari Teheran, menandakan ketegangan diplomatik yang meningkat antara kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Lebanon, melalui pengumuman resminya pada Rabu (25/3/2026), menegaskan bahwa Shibani diberikan tenggat waktu hingga 29 Maret untuk segera meninggalkan wilayah Lebanon. Istilah ‘persona non grata’ sendiri dalam dunia diplomasi merujuk pada individu yang tidak lagi diterima di suatu negara, dan status ini secara efektif mengakhiri misi diplomatiknya. Informasi ini dilansir oleh Anadolu Agency dan TRT World.

Langkah drastis ini, menurut Kementerian Luar Negeri Lebanon, diambil sebagai respons terhadap "pelanggaran yang dilakukan Teheran terhadap norma dan protokol diplomatik yang telah ditetapkan" antara kedua negara. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya serangkaian insiden yang memicu keputusan Beirut. Selain itu, Duta Besar Lebanon untuk Iran, Ahmad Sweidan, juga telah dipanggil pulang ke Beirut untuk konsultasi lebih lanjut.
Ketegangan ini bukan tanpa preseden. Pada tanggal 5 Maret lalu, pemerintah Lebanon telah mengeluarkan perintah kepada otoritas berwenang untuk memburu dan menangkap setiap anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) yang diduga beroperasi secara ilegal di negara tersebut. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran Lebanon terhadap aktivitas militer asing di tanahnya.
Lebih jauh lagi, tahun lalu, Presiden Lebanon Joseph Aoun secara tegas telah menyampaikan kepada Iran bahwa tidak ada kelompok atau entitas di wilayah Lebanon yang diizinkan untuk membawa senjata atau bergantung pada dukungan asing. Peringatan ini menggarisbawahi upaya Lebanon untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas internalnya.
Keputusan diplomatik ini juga tidak terlepas dari situasi regional yang memanas. Lebanon sendiri telah terseret ke dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, menyusul serangan roket yang dilancarkan oleh kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, terhadap Israel. Hizbullah mengklaim serangan tersebut sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah insiden yang disebut-sebut melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon, dengan klaim menargetkan posisi Hizbullah. Eskalasi ini tidak berhenti di situ, Tel Aviv juga mengerahkan pasukan darat untuk menyerbu area perbatasan Lebanon, memperparah ketegangan. Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon mengindikasikan dampak kemanusiaan yang parah, dengan sedikitnya 1.072 orang tewas dan 2.966 lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan udara Israel yang tak henti sejak awal Maret.
Untuk informasi lebih lanjut dan analisis mendalam mengenai perkembangan di Timur Tengah, saksikan program khusus di internationalmedia.co.id. Anda juga dapat melihat rekaman video eksklusif ‘Detik-detik Militer Israel Hancurkan Jembatan Qasmiyeh di Lebanon’ yang tersedia di platform kami.

