Manila dilanda kekhawatiran serius akan ketersediaan pasokan bahan bakar. Filipina secara resmi mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional, sebuah langkah drastis yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif untuk menjaga keamanan energi di tengah gejolak rantai pasokan global yang parah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa keputusan ini diambil menyusul ancaman nyata terhadap stabilitas pasokan energi negara.
Konflik yang memanas antara AS, Israel, dan Iran telah memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi penutupan atau gangguan signifikan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini, yang merupakan arteri utama bagi perdagangan minyak dunia, jika terganggu, akan mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global, menyebabkan lonjakan harga dan kelangkaan pasokan. Bagi Filipina, negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar—hampir seluruhnya dari Teluk—situasi ini sangat rentan terhadap gangguan produksi dan pengiriman.

Dalam perintah eksekutif yang dibagikan kepada media, Presiden Marcos menegaskan, "Keadaan darurat energi nasional dengan ini dideklarasikan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan bahaya yang mengancam ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara." Deklarasi ini akan berlaku selama satu tahun penuh, kecuali jika diperpanjang atau dicabut lebih awal oleh keputusan presiden.
Langkah ini, menurut Marcos, akan memberdayakan pemerintah untuk mengimplementasikan "langkah-langkah terkoordinasi" guna mengatasi disrupsi yang mungkin terjadi pada perekonomian nasional. Sebuah komite khusus juga telah dibentuk dengan tugas vital untuk memastikan kelancaran pergerakan, pasokan, distribusi, dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, serta barang-barang esensial lainnya.
Deklarasi darurat ini tidak terlepas dari desakan para senator sebelumnya yang mendesak Presiden Marcos untuk mengakui "tingkat darurat" kesulitan yang dihadapi keluarga Filipina akibat melonjaknya harga minyak. Pada hari Selasa, pasar kembali dikejutkan dengan lonjakan harga bensin dan solar yang kini lebih dari dua kali lipat dari level sebelum perang pada bulan Februari, semakin membebani masyarakat.
Dengan ketergantungan impor minyak mentah sebesar 98% dari kawasan Teluk, konflik ini telah menimbulkan dampak berantai yang luas di Filipina, mulai dari sektor transportasi hingga harga beras yang menjadi kebutuhan pokok. Untuk mitigasi, pemerintah sebelumnya telah memberikan subsidi kepada pengemudi transportasi, mengurangi layanan feri, dan menerapkan minggu kerja empat hari bagi pegawai negeri sipil dalam upaya menghemat bahan bakar.
Menteri Energi Sharon Garin, pada kesempatan terpisah, mengungkapkan bahwa negara tersebut saat ini memiliki persediaan bahan bakar yang diperkirakan cukup untuk sekitar 45 hari ke depan. Menanggapi lonjakan biaya gas alam cair (LNG), Garin menyatakan bahwa Filipina "sementara" akan lebih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Ancaman terhadap Selat Hormuz bukan hanya masalah Filipina, melainkan juga kekhawatiran besar bagi seluruh Asia. Kawasan ini sangat rentan, mengingat hampir 90% dari seluruh minyak dan gas yang melintasi jalur air strategis tersebut pada tahun lalu ditujukan untuk negara-negara di Asia.

