Sebuah kabar mengejutkan datang dari Gedung Putih. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan secara rahasia tengah menjajaki Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai figur kunci untuk masa depan Iran, bahkan sebagai calon pemimpin baru. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Ghalibaf disebut-sebut sebagai pihak yang potensial untuk bernegosiasi dengan Washington demi meredakan konflik.
Mengutip laporan Politico yang juga dilansir Anadolu Agency, dua pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Ghalibaf dipandang oleh sebagian kalangan di Gedung Putih sebagai sosok yang dapat diandalkan. Mereka meyakini Ghalibaf memiliki kapasitas untuk memimpin Iran dan menjalin dialog krusial dengan pemerintahan Trump guna menuntaskan fase konflik yang sedang berlangsung. Meskipun demikian, Gedung Putih belum sepenuhnya berkomitmen pada satu nama. "Dia adalah opsi yang menarik," ujar seorang pejabat, sebagaimana dikutip Politico. "Dia termasuk salah satu figur paling berpengaruh… Namun, kami perlu mengujinya, dan ini bukan keputusan yang bisa terburu-buru."

Sebelumnya, pada Senin (23/3), Donald Trump telah mengisyaratkan akan adanya "perubahan rezim yang sangat signifikan" di Iran. Ia bahkan mengklaim bahwa proses perubahan tersebut sudah dimulai, menyusul "terbunuhnya semua" dari kepemimpinan sebelumnya. "Mereka benar-benar baru memulai. Perubahan rezim akan terjadi secara otomatis, tetapi kami berhadapan dengan beberapa individu yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid," tegas Trump. Sumber Politico juga menyebutkan bahwa Trump tidak berencana untuk merebut Pulau Kharg, pusat minyak vital Iran. Harapannya, pemimpin baru Iran akan menyepakati perjanjian serupa dengan yang dicapai oleh Delcy Rodriguez, mantan Wakil Presiden Venezuela, yang mengambil alih kekuasaan setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari. "Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela, di mana kami berkata, ‘Kami akan mempertahankan Anda di sana. Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,’" jelas pejabat tersebut, menggambarkan visi Trump.
Namun, narasi ini dibantah keras oleh Mohammad Bagher Ghalibaf sendiri. Meskipun Al Jazeera melaporkan bahwa Ghalibaf disebut-sebut sebagai tokoh sentral dalam potensi negosiasi dengan AS untuk mengakhiri konflik, Ghalibaf secara tegas menyatakan "belum ada negosiasi yang dilakukan." Ia bahkan tak segan mengejek strategi perang Trump melalui media sosial. Dalam unggahan di platform X, seperti dilansir AFP, Ghalibaf menegaskan, "Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu ini digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta untuk menghindari jebakan yang telah menjerat AS dan Israel."
Dengan adanya laporan dari Gedung Putih yang mengisyaratkan pendekatan rahasia terhadap Ghalibaf, berhadapan dengan bantahan tegas dari sang Ketua Parlemen Iran, situasi politik di Timur Tengah semakin memanas. Spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan Iran dan potensi perubahan arah kebijakan luar negeri AS di bawah Trump terus menjadi sorotan global.
(rfs/imk)

