Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home ยป Otak Keamanan Iran Tewas Siapa Dia Sebenarnya
Trending Indonesia

Otak Keamanan Iran Tewas Siapa Dia Sebenarnya

GunawatiBy Gunawati18-03-2026 - 12.30Tidak ada komentar5 Mins Read1 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Otak Keamanan Iran Tewas Siapa Dia Sebenarnya
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah. Ali Larijani, sosok kunci dalam arsitektur keamanan Iran dan salah satu tokoh paling berpengaruh di negara itu, dilaporkan tewas dalam serangan yang diklaim oleh Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan kematian Larijani, 67 tahun, diumumkan beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi serangan tersebut di tengah eskalasi perang AS-Israel melawan Iran.

Kematian Larijani menjadi pukulan telak bagi Teheran, terutama setelah ia muncul sebagai figur sentral pasca-pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia adalah pejabat Iran paling senior yang gugur di tangan Israel sejak insiden Khamenei pada 28 Februari. Selain Larijani, Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij Iran, juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah, menurut media pemerintah Iran. Larijani, yang menjabat sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terakhir terlihat di depan umum pada Jumat, 13 Maret 2026, saat parade Hari Al-Quds di Teheran.

Otak Keamanan Iran Tewas Siapa Dia Sebenarnya
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Selama puluhan tahun, Larijani dikenal sebagai wajah pragmatis dan tenang dalam pemerintahan Iran, seorang intelektual yang bahkan menulis buku tentang filsuf Jerman Immanuel Kant dan menjadi arsitek kesepakatan nuklir dengan Barat. Namun, pada 1 Maret, retorikanya berubah drastis. Hanya 24 jam setelah serangan udara AS-Israel merenggut nyawa Khamenei dan komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Larijani tampil di televisi pemerintah dengan pesan yang membakar semangat.

"Amerika dan rezim Zionis (Israel) telah membakar hati bangsa Iran," ujarnya di media sosial. "Kami akan membakar hati mereka. Kami akan membuat para penjahat Zionis dan Amerika yang tak tahu malu menyesali perbuatan mereka." Ia menambahkan, "Para prajurit pemberani dan bangsa Iran yang agung akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada para penindas internasional yang keji." Larijani, yang menuduh Presiden AS Donald Trump jatuh ke dalam "perangkap Israel," berada di pusat respons sistem pemerintahan Iran terhadap krisis terbesarnya sejak 1979, memainkan peran penting dalam dewan transisi beranggotakan tiga orang yang menjalankan Iran setelah pembunuhan Khamenei.

Keluarga Kennedy dari Iran

Lahir di Najaf, Irak, pada 3 Juni 1958, Larijani berasal dari keluarga terpandang di kota Amol, Iran. Kerap disebut sebagai "Keluarga Kennedy dari Iran" oleh majalah Time pada 2009, dinasti Larijani memang sangat berpengaruh. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah cendekiawan agama terkemuka. Saudara-saudaranya juga menduduki posisi strategis di lembaga peradilan dan Majelis Pakar. Ikatan Larijani dengan elite revolusi Iran semakin kuat setelah ia menikahi Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, orang kepercayaan pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Berbeda dengan kebanyakan koleganya yang berlatar belakang seminari agama, Larijani menonjol dengan pendidikan akademis sekuler. Ia meraih gelar sarjana matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada 1979, sebelum melanjutkan studi master dan doktor dalam filsafat Barat di Universitas Teheran, dengan tesisnya yang mendalami pemikiran Immanuel Kant.

Perjalanan kariernya dimulai pasca-revolusi 1979, bergabung dengan IRGC di awal 1980-an. Ia kemudian beralih ke ranah pemerintahan, menjabat Menteri Kebudayaan (1994-1997) di bawah Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, lalu memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB (1994-2004). Periode ini sempat menuai kritik dari kaum reformis yang menuduhnya mendorong pemuda Iran ke media asing.

Pada 2005, ia ditunjuk sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan negosiator utama nuklir Iran, posisi krusial yang ia tinggalkan pada 2007 karena perbedaan pandangan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengenai kebijakan nuklir. Larijani kemudian menjadi Ketua Parlemen (Majlis) selama tiga periode berturut-turut antara 2008 dan 2020, memainkan peran signifikan dalam membentuk kebijakan domestik dan luar negeri, termasuk mengamankan persetujuan parlemen untuk kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) antara Iran dan kekuatan dunia.

Meski pernah gagal dalam pencalonan presiden 2005, Larijani tetap menjadi figur berpengaruh. Namun, ambisinya untuk kembali ke kursi kepresidenan pada 2021 dan 2024 terganjal diskualifikasi oleh Dewan Penjaga, sebuah langkah yang dikritiknya sebagai "tidak transparan" dan diyakini analis sebagai upaya membuka jalan bagi kandidat garis keras. Ironisnya, ia kembali menduduki posisi penting pada Agustus 2025, diangkat kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi oleh Presiden Masoud Pezeshkian.

Sejak menjabat kembali, pendirian Larijani tampak semakin mengeras. Pada Oktober 2025, ia bahkan dilaporkan membatalkan perjanjian kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menegaskan bahwa laporan badan tersebut "tidak lagi efektif."

Diplomasi di Tengah Perang

Namun, di balik citra kerasnya, Larijani sering dipandang sebagai sosok pragmatis yang mungkin bersedia berkompromi, terutama mengingat perannya dalam kesepakatan nuklir 2015. Beberapa minggu sebelum eskalasi konflik, ia bahkan terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan AS yang dimediasi Oman. Saat itu, ia mengatakan Teheran belum menerima proposal spesifik dari Washington dan menuduh Israel mencoba menyabotase jalur diplomatik untuk "memicu perang." Dalam wawancara dengan Al Jazeera sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran, Larijani menggambarkan posisi negaranya dalam pembicaraan tersebut sebagai "positif," mencatat bahwa AS telah menyadari bahwa opsi militer tidak layak. "Menggunakan negosiasi adalah jalan yang rasional," katanya kala itu.

Sayangnya, serangan AS-Israel telah menutup rapat jendela diplomatik tersebut. Larijani dengan tegas menolak gagasan pembicaraan baru dengan Washington, menyatakan Iran "tidak akan bernegosiasi." Retorikanya pun semakin tajam, dengan ancaman menangkap dan membunuh pasukan AS jika mereka berani memasuki Iran. Pada 13 Maret, ia bahkan turun ke jalan Teheran bersama Presiden Pezeshkian dan ribuan demonstran untuk memperingati Hari Al-Quds, menunjukkan ketahanan di tengah pemboman.

Dalam salah satu pernyataan terakhirnya di akun X, Larijani mengecam keras negara-negara Muslim atas

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Peluru Nyasar Menggemparkan Korsel Militer Langsung Ambil Tindakan

18-03-2026 - 16.00

Kuba Siaga Penuh Hadapi Ambisi Trump

18-03-2026 - 12.45

Misteri Kematian Tokoh Kunci Iran

18-03-2026 - 12.15

Misteri Ledakan Baghdad Kedubes AS Jadi Target

18-03-2026 - 12.00

Trump Sebut NATO Bodoh Selat Hormuz Membara

18-03-2026 - 10.45

Dendam Berdarah Iran Guncang Jantung Israel

18-03-2026 - 10.15
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.