Teheran mengumumkan kabar duka. Militer Iran secara resmi mengonfirmasi bahwa 104 personelnya gugur dalam insiden penenggelaman kapal perang fregat IRIS Dena oleh serangan torpedo Amerika Serikat di lepas pantai Sri Lanka pekan lalu. Sebanyak 32 awak lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan yang memicu ketegangan baru di perairan internasional, demikian laporan Internationalmedia.co.id – News pada Senin (9/3/2026).
Kapal perang jenis fregat milik Iran, IRIS Dena, dilaporkan karam di Samudra Hindia, sekitar 19 mil laut dari kota pelabuhan Galle, Sri Lanka selatan, pada Rabu (4/3) pekan lalu. Insiden tragis ini terjadi ketika kapal tersebut dihantam torpedo yang diluncurkan oleh sebuah kapal selam Amerika Serikat, di tengah-tengah konflik sengit yang melibatkan kedua negara adidaya.

Sebelum serangan mematikan itu, IRIS Dena sedang dalam perjalanan pulang usai mengikuti latihan militer ‘Milan 2026’ di pelabuhan Visakhapatnam, India bagian timur. Angkatan Laut Sri Lanka berperan aktif dalam upaya penyelamatan, berhasil mengevakuasi 32 awak yang terluka dan puluhan jenazah dari lokasi kejadian.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, menjelaskan bahwa kapal perang Iran tersebut sempat mengirimkan sinyal darurat pada dini hari. Namun, saat kapal penyelamat tiba di lokasi dalam waktu kurang dari satu jam, IRIS Dena sudah sepenuhnya tenggelam, hanya menyisakan bercak minyak yang mengapung di permukaan laut sebagai saksi bisu tragedi.
Dari Washington, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya telah mengumumkan keberhasilan kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia, tepatnya di lepas pantai Sri Lanka. Hegseth menggambarkan serangan ini sebagai "kematian senyap" yang mengejutkan.
Dalam pernyataannya, Hegseth menegaskan, "Sebuah kapal selam Amerika berhasil menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira mereka aman di perairan internasional. Namun, kapal itu justru dilumpuhkan oleh torpedo." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa AS menganggap tindakan tersebut sebagai respons militer yang sah.
Militer Iran tidak tinggal diam. Teheran telah bersumpah akan membalas serangan Amerika Serikat yang menenggelamkan kapal perangnya tersebut, menyebutnya sebagai "serangan pengecut" dan menuding "arogansi global" tidak mematuhi aturan internasional apa pun.
Dalam kecaman kerasnya, militer Iran menyatakan, "Serangan pengecut terhadap fregat Dena, sekitar 2.000 mil dari medan perang, yang mengakibatkan gugurnya para taruna muda yang kembali dari latihan perdamaian Milan 2026, menunjukkan bahwa arogansi global tidak mematuhi aturan internasional apa pun." Mereka menambahkan, "Kematian syahid para pemuda terkasih itu hanya akan memperkuat tekad bangsa Iran yang hebat dan para pejuang Islam untuk membalas darah suci rekan-rekan mereka."

