Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Di tengah gejolak regional yang memanas, Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), akhirnya menyuarakan sikap tegas negaranya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan MBZ ini merupakan komentar publik perdananya sejak Iran meluncurkan rudal ke sejumlah negara Teluk, termasuk UEA, menyusul gempuran AS-Israel.
Dengan nada lugas, MBZ menegaskan bahwa UEA bukanlah target yang mudah. "UEA memiliki kulit yang tebal dan daging yang pahit—kami bukanlah mangsa yang mudah," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat kesiapan UEA menghadapi segala bentuk ancaman.

Ia juga menekankan komitmen penuh UEA untuk melindungi semua pihak yang berada di wilayahnya, tanpa terkecuali. "Kami akan memenuhi tanggung jawab kami terhadap negara, rakyat kami, dan para penduduk (warga asing) yang juga merupakan bagian dari keluarga kami," tegasnya, menyoroti inklusivitas dan tanggung jawab negara di tengah krisis.
Konflik di kawasan ini memanas sejak 28 Februari, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan masif terhadap Iran. Iran kemudian membalas dengan gempuran rudal dan drone ke Israel serta target-target AS di sejumlah negara kawasan, terutama di Teluk. Akibatnya, tiga orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka dalam serangan yang menargetkan UEA. Kementerian Pertahanan UEA telah menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi ancaman apa pun.
Sementara itu, dari kubu Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang dilancarkan Iran. Namun, permintaan maaf ini disertai dengan peringatan keras. "Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, dilansir AFP.
Ia menambahkan, "Dewan Kepemimpinan Transisi kemarin sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut." Pernyataan ini mengindikasikan upaya deeskalasi bersyarat dari pihak Iran.
Dewan Kepemimpinan Transisi ini mengambil alih kendali setelah tewasnya pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pekan lalu, dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel—peristiwa yang memicu gelombang perang di Timur Tengah.
Meskipun demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tak akan pernah tunduk kepada Israel dan Amerika Serikat. "Musuh-musuh Iran harus mengubur dalam-dalam impian mereka untuk melihat rakyat Iran menyerah tanpa syarat," ujarnya, menandakan tekad kuat Iran untuk terus berjuang di tengah perang yang kini memasuki minggu kedua.

