Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini melontarkan ultimatum keras kepada Iran, menuntut penyerahan tanpa syarat sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian. Pernyataan mengejutkan ini, yang diunggah melalui platform Truth Social miliknya, menandai eskalasi retorika di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Trump menegaskan bahwa "Tidak ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat."
Ultimatum Trump ini muncul di tengah gelombang serangan intensif. Israel dilaporkan membombardir target rezim di Teheran serta posisi Hizbullah di Beirut. Tak hanya itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga telah mengisyaratkan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran "akan meningkat secara dramatis," menambah tekanan pada Teheran.

Menurut Trump, setelah Iran menyerah, Amerika Serikat dan para sekutunya akan berupaya keras untuk membimbing negara tersebut menuju masa depan yang lebih baik. Ia menjanjikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat bagi Iran. Bahkan, Trump memperkenalkan slogan baru yang menarik perhatian, "Make Iran Great Again" (MIGA), sebuah variasi dari slogannya yang terkenal, "Make America Great Again."
Selain tuntutan penyerahan, Trump juga secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk terlibat dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Pernyataan ini muncul menyusul kabar kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut-sebut akibat serangan gabungan AS-Israel.
Dalam wawancara dengan media Axios, seperti dikutip dari AFP dan Al Arabiya, Trump secara spesifik menolak putra Khamenei, Motjaba Khamenei, yang disebut sebagai kandidat terdepan. "Putra Khamenei kurang berpengaruh," ujar Trump. Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan Venezuela, di mana presiden sementara Delcy Rodriguez bersedia bekerja sama dengan AS di bawah ancaman kekerasan setelah penggulingan Nicolas Maduro. "Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy," tegas Trump, mengindikasikan ambisinya untuk membentuk lanskap politik Iran pasca-konflik.
Ultimatum dan intervensi yang diusung Trump ini jelas menempatkan Iran di persimpangan jalan yang sangat krusial, dengan implikasi besar bagi stabilitas regional dan global.

