Riyadh – Pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat serangkaian serangan rudal jelajah dan drone yang menargetkan wilayahnya pada Rabu (4/3) waktu setempat. Insiden ini diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Saudi, sebagaimana dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, menandai eskalasi ketegangan di kawasan.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Saudi, dua rudal jelajah berhasil dihancurkan di Provinsi al-Kharj, tenggara ibu kota Riyadh. Pada hari yang sama, sembilan drone juga berhasil dicegat dan dilumpuhkan segera setelah memasuki wilayah udara Kerajaan. Sebelumnya, pada Rabu pagi, sebuah drone lain yang terdeteksi di Provinsi Timur juga berhasil diintersep.

Rentetan serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional, di mana Iran menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer Amerika Serikat. Tindakan ini disebut sebagai balasan atas serangan terkoordinasi AS dan Israel sejak akhir pekan sebelumnya. Mayor Jenderal Turki al-Malki, juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, sebelumnya telah mengumumkan keberhasilan pasukan Saudi mencegat delapan drone yang menargetkan Riyadh dan Al-Kharj pada Selasa (3/3) pagi.
Salah satu target serangan Iran yang signifikan adalah Kedutaan Besar AS di Riyadh. Meskipun pertahanan udara Saudi mampu mencegat sejumlah ancaman, Al-Malki mengonfirmasi bahwa Kedutaan Besar AS mengalami "kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil."
Pemerintah Arab Saudi tidak tinggal diam. Dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) pada Selasa (3/3) malam, Riyadh menegaskan "hak penuh" untuk merespons agresi tersebut. Serangan-serangan Iran ini disebut sebagai tindakan "terang-terangan dan pengecut." Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa Kerajaan akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, penduduk, dan kepentingan vitalnya, termasuk opsi untuk membalas agresi tersebut.

