Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden maritim yang mengguncang Samudra Hindia terjadi setelah kapal perang Iran, IRIS Dena, dilaporkan tenggelam di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3) waktu setempat. Peristiwa tragis ini diduga kuat akibat serangan torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam Amerika Serikat, menewaskan puluhan personel militer Iran dan menyebabkan banyak lainnya hilang.
Laporan awal menyebutkan setidaknya 87 tentara Iran tewas dalam insiden tersebut, sementara 61 lainnya masih belum ditemukan. Angkatan Laut Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 tentara, sebagian besar dalam kondisi terluka, yang kini mendapatkan perawatan medis intensif di sebuah rumah sakit di kota Galle. Proses evakuasi jenazah dan pencarian korban hilang masih terus berlangsung di perairan yang bergejolak itu. Seorang fotografer AFP di Sri Lanka juga melaporkan melihat puluhan jenazah dibawa ke rumah sakit pada Rabu malam.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, secara terbuka mengonfirmasi bahwa kapal selam Amerika bertanggung jawab atas penenggelaman kapal perang Iran tersebut. Hegseth menyebutnya sebagai "kematian senyap" dan menandai ini sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo AS sejak Perang Dunia II. Ia menekankan bahwa kapal Iran tersebut "mengira mereka aman di perairan internasional," namun justru menjadi sasaran mematikan.
Menurut keterangan juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, IRIS Dena sempat mengirimkan panggilan darurat saat fajar. Namun, ketika kapal penyelamat mencapai lokasi dalam waktu satu jam, kapal perang jenis fregat itu sudah sepenuhnya tenggelam, hanya menyisakan bercak minyak di permukaan laut. Serangan terjadi sekitar 40 kilometer selatan kota Galle, saat kapal Iran itu dalam perjalanan pulang setelah mengikuti latihan militer di pelabuhan Visakhapatnam, India bagian timur.
Hingga kini, Teheran belum memberikan pernyataan resmi terkait tenggelamnya kapal perangnya. Duta Besar Iran di Kolombo, Alireza Delkhosh, juga belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Insiden ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan gabungan AS dan Israel. Sri Lanka, melalui Menteri Luar Negeri Vijitha Herath, menegaskan posisinya yang netral dan terus menyerukan dialog untuk meredakan ketegangan regional. Respons Sri Lanka terhadap panggilan darurat ini ditegaskan sebagai bagian dari kewajiban maritim internasional di area pencarian dan penyelamatan mereka di Samudra Hindia.

