Sebuah operasi militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran disebut-sebut memiliki skala yang jauh melampaui intervensi AS di Irak pada tahun 2003. Internationalmedia.co.id – News Komandan Militer AS di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, mengungkapkan bahwa hampir 2.000 target di Iran telah menjadi sasaran serangan.
Dalam pernyataannya yang dirilis pada Rabu (4/3/2026), Laksamana Cooper merinci bahwa lebih dari 2.000 amunisi telah digunakan dalam operasi ini. Ia mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil melemahkan pertahanan udara Iran secara signifikan, serta menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, dan drone milik Teheran.

Laksamana Cooper membandingkan intensitas serangan ini dengan operasi "shock-and-awe" di Irak pada tahun 2003. Ia menyebutkan bahwa 24 jam pertama operasi di Iran memiliki skala hampir dua kali lipat dibandingkan hari pertama serangan di Irak. "Kami terus melancarkan serangan 24/7 ke Iran," tegasnya.
Serangan terkoordinasi antara AS dan Israel ini dilaporkan telah berlangsung sejak Sabtu (28/2). Selama beberapa hari, pasukan dari kedua negara sekutu tersebut menyasar berbagai target strategis di Iran, termasuk fasilitas rudal, pangkalan angkatan laut, serta pusat komando dan kendali militer negara tersebut.
Di sisi lain, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan adanya peningkatan drastis jumlah korban jiwa akibat gelombang serangan ini. Menurut data terbaru yang dirilis pada Selasa (3/3), lebih dari 780 warga Iran telah gugur di berbagai wilayah.
Lembaga kemanusiaan tersebut menyatakan bahwa AS dan Israel telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara sejak Sabtu (28/2) waktu setempat. Serangan-serangan ini disebut telah menghantam sedikitnya 153 kota dan lebih dari 500 lokasi di seluruh Iran, menunjukkan cakupan geografis yang sangat luas dan dampak yang mendalam.

