Ketegangan di Timur Tengah memuncak tajam setelah serangkaian serangan dan ancaman balasan antara Amerika Serikat dan Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, konflik yang telah lama membara ini memasuki fase paling kritis menyusul operasi militer gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Insiden ini memicu sumpah balas dendam dari Teheran, yang langsung disambut dengan peringatan keras dari Washington, menempatkan kedua negara di ambang konfrontasi skala penuh.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, AS bersama Israel melancarkan serangan yang dinamai Operasi Epic Fury terhadap Iran. Serangan ini, yang disebut-sebut sebagai salah satu operasi udara paling mematikan dan presisi dalam sejarah, menargetkan sejumlah fasilitas penting di Iran. Dampak paling signifikan dari operasi tersebut terungkap pada Minggu, 1 Maret, ketika Iran mengumumkan kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan itu.

Kematian Khamenei memicu gelombang kemarahan dan duka di seluruh Iran. Garda Revolusi Islam (IRGC) segera mengeluarkan pernyataan keras, menegaskan bahwa "Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka." Kantor berita Iran, IRNA, menambahkan bahwa IRGC berencana melancarkan operasi balasan yang menargetkan sasaran militer dan keamanan AS serta rezim Zionis Israel secara luas. Serangan ini dijanjikan akan menggunakan rudal yang lebih canggih dari yang pernah digunakan dalam Operasi True Promise 3, dengan kemampuan yang lebih tepat dan menghancurkan. IRGC juga mengklaim telah menyerang kapal Amerika, MST, dengan rudal Angkatan Laut Iran pada Sabtu malam.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut bersuara, menyatakan bahwa membalas dendam atas pembunuhan Khamenei dan pejabat senior Iran adalah "kewajiban dan hak sah" negara tersebut. Ia bersumpah Iran akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memenuhi tanggung jawab ini. Pezeshkian bahkan menyebut pembunuhan Khamenei sebagai "deklarasi perang terbuka terhadap umat Islam," khususnya Syiah, dan menganggapnya sebagai "cobaan terbesar yang dihadapi dunia Islam saat ini."
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terbaru terhadap Iran. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump memperingatkan Teheran agar tidak membalas serangan AS dan Israel. "Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. MEREKA LEBIH BAIK TIDAK MELAKUKAN ITU, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENYERANG MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!" tulis Trump.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membela Operasi Epic Fury, menyebutnya sebagai operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah. Hegseth menuduh rezim Iran menolak kesempatan untuk membuat kesepakatan dan kini harus menanggung konsekuensinya. Ia juga menyoroti bagaimana Iran selama hampir lima puluh tahun telah menargetkan dan membunuh warga Amerika, serta berupaya mengembangkan senjata paling ampuh. "Tadi malam, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump mulai menangani kanker ini," kata Hegseth, menegaskan AS tidak akan mentolerir rudal-rudal yang mengancam rakyatnya. Operasi ini, menurutnya, bertujuan menghancurkan rudal-rudal Iran, produksi rudal, dan angkatan lautnya. Hegseth juga kembali menegaskan komitmen AS bahwa "Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir."
Komando Pusat AS (CENTCOM) merinci bahwa Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari atas arahan langsung Presiden Donald Trump. Pasukan AS dan sekutunya melancarkan serangan pada pukul 01.15 waktu setempat, menargetkan aparat keamanan rezim Iran. Target utama mencakup fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sistem pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta lapangan terbang militer, dengan prioritas pada lokasi yang menimbulkan ancaman langsung. Hegseth menyimpulkan, "Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia – seperti yang dilakukan Iran – maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda."
Situasi yang memanas ini menempatkan komunitas internasional dalam kewaspadaan tinggi, menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak yang saling melontarkan ancaman.

