Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai ‘jantung Teheran’, ibu kota Iran. Serangan ini menandai eskalasi signifikan, menjadi yang pertama kali menargetkan pusat kota sejak gelombang agresi terbaru oleh AS dan Israel dimulai. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Minggu (1/3/2026), serangkaian ledakan dahsyat mengguncang berbagai wilayah di Teheran, memicu kepanikan warga.
Dalam pernyataan yang disebarkan melalui platform Telegram, pihak militer Israel mengklaim bahwa sasaran utama serangan ini adalah situs-situs pemerintahan Iran. Mereka juga menegaskan bahwa operasi selama 24 jam terakhir dirancang untuk mengukuhkan dominasi udara dan membuka jalur strategis menuju Teheran, mengindikasikan niat untuk penetrasi lebih lanjut.

Saksi mata di lapangan melaporkan kepulan asap tebal membubung tinggi di atas cakrawala Teheran, menyusul dentuman keras yang terdengar. Kantor berita resmi Iran, IRNA, turut mengonfirmasi insiden ini, merinci bahwa ‘ledakan dahsyat’ tersebut merupakan akibat dari serangan rudal yang menghantam beberapa lokasi vital. Area yang disebutkan meliputi sekitar persimpangan Seyyed Khandan dan Qasr, Lapangan Vanak, serta sepanjang Jalan Motahari, menunjukkan cakupan serangan yang luas.
Serangan Israel ini bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari siklus saling balas yang kian memanas. Sebelumnya, Iran sendiri telah melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel, yang kala itu memicu aktivasi sirene peringatan di kota-kota besar seperti Tel Aviv, Yerusalem, serta wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel, dan juga Haifa.
Eskalasi terbaru ini berakar pada operasi gabungan AS dan Israel yang diberi sandi ‘Epic Fury’, yang dilancarkan pada Sabtu (28/2) lalu. Operasi tersebut dilaporkan telah menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta mengakibatkan ratusan korban jiwa dari kalangan warga sipil Iran, memicu kemarahan dan janji pembalasan dari Teheran.

