Kabul – Sebuah kabar mengejutkan mengguncang lanskap politik Afghanistan. Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, dilaporkan tewas dalam operasi militer yang dilancarkan Pakistan di wilayah Afghanistan baru-baru ini. Namun, klaim ini masih diselimuti misteri dan belum mendapat konfirmasi resmi dari kelompok Taliban yang kini berkuasa di Kabul. Internationalmedia.co.id – News mencatat bahwa rumor semacam ini bukan kali pertama menerpa sosok Akhundzada yang dikenal sangat tertutup.
Berbagai media asing, termasuk Views Bangladesh, First Post, dan The Sunday Guardian dari India, turut memberitakan kabar ini. Laporan-laporan tersebut, seperti dikutip oleh internationalmedia.co.id pada Jumat (27/2), merujuk pada sumber yang sama: sebuah postingan di media sosial X dari akun @Osinteurope, cabang Eropa dari Open Source Intelligence (OSINT), sebuah lembaga think-tank intelijen internasional.

Akun @Osinteurope secara gamblang mengumumkan kematian Akhundzada pada Jumat (27/2) pagi. "BREAKING: Pemimpin Tertinggi Emirat Islam Afghanistan, Hibatullah Akhundzada, dilaporkan tewas bersama para komandan senior Taliban setelah serangan udara Pakistan menargetkan markas besar mereka di Kabul, Afghanistan," demikian bunyi postingan yang dikutip luas oleh media-media asing tersebut. Sejumlah postingan serupa juga beredar di platform X, memperkuat narasi ini.
Akhundzada, yang telah memimpin Taliban sejak tahun 2016, kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi Emirat Islam Afghanistan pasca penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO pada tahun 2021. Sosoknya yang misterius dan jarang tampil di hadapan publik memang kerap menjadi pemicu berbagai spekulasi. Rumor tentang kesehatan atau kematiannya telah beberapa kali muncul di masa lalu, seringkali tanpa verifikasi yang kredibel, menambah kerumitan dalam upaya mengonfirmasi klaim terbaru ini.
Kabar kematian ini muncul di tengah eskalasi ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan. Islamabad melancarkan serangan udara ke beberapa provinsi di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, pada Jumat (27/2) pagi. Pakistan mengklaim operasi ini sebagai respons atas serangan yang dilancarkan Afghanistan sehari sebelumnya, Kamis (26/2) malam. Pihak Taliban di Kabul sendiri menyatakan serangan perbatasan mereka pada Kamis malam adalah balasan atas serangan udara mematikan Pakistan sebelumnya.
Meskipun Pakistan mengklaim pasukannya berhasil menewaskan 133 petempur Taliban Afghanistan dalam serangannya, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah adanya korban jiwa dari pihak mereka akibat serangan terbaru pada Jumat (27/2). Namun, secara terpisah, Kementerian Pertahanan Afghanistan justru melaporkan delapan tentaranya tewas dan sebelas lainnya luka-luka, menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam laporan korban.

