Internationalmedia.co.id – News โ Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan semakin memanas setelah kapal induk terbesar milik AS, USS Gerald R. Ford, memasuki Laut Mediterania pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat. Kehadiran kapal raksasa ini, yang berlayar atas instruksi langsung Presiden Donald Trump, menjadi simbol peningkatan kekuatan militer besar-besaran di tengah ancaman konflik yang semakin nyata.
Berdasarkan laporan internationalmedia.co.id pada Minggu (22/2/2026), kapal induk bertenaga nuklir tersebut, yang merupakan yang terbesar di dunia, terlihat melintasi Selat Gibraltar. Jalur strategis ini menghubungkan Samudra Atlantik ke Mediterania, sebagaimana terekam dalam foto-foto yang diambil dari sisi Gibraltar. USS Gerald R. Ford dijadwalkan bergabung dengan kapal induk AS lainnya, USS Abraham Lincoln, yang telah lebih dulu tiba di kawasan Timur Tengah bersama dengan kapal-kapal perang pengiringnya.

Pada Jumat (20/2), Presiden Trump secara terbuka menyatakan sedang "mempertimbangkan" serangan terbatas terhadap Iran, jika upaya negosiasi tidak membuahkan hasil. Pernyataan ini menyusul sinyal yang ia berikan pada Kamis (19/2) tentang "hal-hal buruk" yang akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu yang telah diperpanjangnya menjadi 15 hari. Ketika seorang reporter menanyakan kemungkinan serangan militer terbatas, Trump hanya menjawab, "Yang paling bisa saya katakan โ saya sedang mempertimbangkannya."
Keresahan Warga Teheran
Di Teheran, ketenangan warga terusik oleh bayang-bayang konflik. Hamid, seorang warga setempat, mengaku sulit tidur nyenyak akibat kekhawatiran akan pecahnya perang lagi, mengingatkan pada insiden 12 hari dengan Israel tahun lalu. "Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat," ujarnya kepada AFP pada Minggu (22/2/2026).
Ibu kota Iran itu pernah diguncang ledakan pada malam hari tanggal 12 hingga 13 Juni tahun lalu, saat musuh bebuyutan Iran, Israel, melancarkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serangan tersebut memicu respons Iran dengan meluncurkan drone dan rudal, yang mengakibatkan ribuan orang tewas di Iran dan puluhan di Israel. Kekhawatiran Hamid semakin mendalam terhadap masa depan anak-anak dan cucu-cucunya. "Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu," katanya.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga lainnya. Hanieh, seorang perajin keramik berusia 31 tahun dari Teheran, bahkan memprediksi perang akan terjadi "dalam 10 hari" dan telah menyiapkan beberapa kebutuhan pokok di rumahnya. "Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir," kenangnya kepada AFP, yang kala itu harus mengungsi ke kota lain. Mina Ahmadvand (46), seorang teknisi IT, juga berpendapat konflik antara Iran, AS, dan Israel tidak dapat dihindari. Ia telah menimbun makanan kaleng, air minum kemasan, dan baterai sebagai persiapan menghadapi kemungkinan terburuk.
Upaya diplomasi antara Iran dan AS masih menemui jalan buntu. Iran bersikeras membatasi pembicaraan pada isu nuklir, sementara Washington mendesak pembahasan program rudal balistik Teheran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Hasil dari jalur diplomasi ini masih belum pasti.
Imbauan Internasional dan Respons Indonesia
Respons internasional pun mulai terlihat. Pemerintah Swedia dan Serbia telah mendesak warga negaranya di Iran untuk segera meninggalkan negara itu. Kementerian Luar Negeri Serbia, yang sebelumnya telah mengeluarkan imbauan serupa pada pertengahan Januari karena penindakan keras terhadap gerakan protes massal, kembali memperingatkan warganya pada Jumat malam hingga Sabtu pagi (21/2). Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, juga menyampaikan "seruan kerasnya" melalui media sosial X.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran terus memantau perkembangan situasi keamanan di Iran. Pelaksana tugas (Plt) Perlindungan WNI (PWNI) Kemlu, Heni Hamidah, saat dihubungi internationalmedia.co.id pada Minggu (22/2), menegaskan bahwa hingga kini, situasi di Teheran dan kota-kota lain terpantau normal dan kondusif. Ia menambahkan, tidak ada laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan.
Meskipun demikian, Pemerintah Indonesia masih menetapkan status siaga 1 untuk Iran sejak Juni 2025. Semua rencana kontingensi disiapsiagakan, termasuk berbagai opsi jalur evakuasi apabila dibutuhkan. KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI di Iran untuk terus meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi terkini, serta menjaga komunikasi aktif dengan KBRI Tehran.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl, juga mengamini bahwa Kemlu mengamati secara seksama perkembangan situasi di Iran. Berdasarkan informasi KBRI, sejauh ini tidak terdapat laporan WNI yang menghadapi kondisi membahayakan keselamatan. Namun, ia menekankan bahwa status siaga 1 yang berlaku sejak Juni tahun lalu masih tetap berlaku. KBRI juga telah beberapa kali menyampaikan imbauan kepada WNI di Iran untuk mempertimbangkan meninggalkan wilayah Iran secara mandiri sekiranya kondisi keamanan di wilayah mereka tidak kondusif. Semua rencana kontingensi tetap disiagakan.
Kemlu mengimbau WNI apabila dalam situasi darurat dapat segera menghubungi Hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027.

