Sebuah dugaan mengejutkan mengguncang jagat maya: Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seks AS yang kontroversial, dituding sebagai mata-mata rahasia Rusia. Namun, respons dari Kremlin justru jauh dari serius, memicu tawa dan keheranan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, kantor kepresidenan Rusia menanggapi spekulasi ini dengan santai, bahkan mengisyaratkan bahwa tuduhan tersebut lebih pantas untuk ditertawakan.
Spekulasi liar ini muncul ke permukaan setelah otoritas Polandia mengumumkan niatnya untuk menyelidiki potensi hubungan Epstein dengan dinas rahasia Rusia. Langkah ini diambil menyusul rilis jutaan halaman dokumen terkait Epstein oleh Departemen Kehakiman AS pekan lalu, yang membuka kotak pandora berisi berbagai informasi mengejutkan.

Saat dikonfirmasi oleh wartawan mengenai apakah Epstein benar-benar agen intelijen Rusia, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tak dapat menahan tawanya. Dengan nada bercanda, Peskov menyatakan, "Saya tergoda untuk membuat banyak lelucon tentang versi tersebut, tetapi mari kita tidak membuang-buang waktu." Pernyataan ini secara jelas menunjukkan sikap Kremlin yang menganggap remeh dugaan tersebut, seolah menepisnya sebagai lelucon belaka.
Meskipun dokumen-dokumen yang dirilis AS memang menunjukkan Epstein dalam beberapa kesempatan mengutarakan keinginannya untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, tidak ada bukti kuat yang mengindikasikan bahwa pertemuan tersebut pernah benar-benar terjadi. Peskov sendiri, saat berbicara kepada media pemerintah Rusia awal pekan ini, menegaskan bahwa Kremlin tidak pernah menerima permintaan pertemuan atau kontak dari Epstein.
Jeffrey Epstein, yang terdaftar sebagai penjahat seks, ditemukan tewas di dalam sel tahanan di New York pada tahun 2019. Kematiannya, yang ditetapkan sebagai bunuh diri saat ia menunggu persidangan atas kasus perdagangan seks, telah memicu berbagai teori konspirasi dan spekulasi yang tak kunjung mereda selama bertahun-tahun.
Nama Putin sendiri memang banyak muncul dalam email-email yang terungkap dalam berkas Epstein. Namun, sebagian besar penyebutan tersebut lebih berkaitan dengan laporan berita mengenai pemimpin Rusia itu, meskipun ada pula sejumlah upaya Epstein untuk mengatur pertemuan. Selain itu, kumpulan dokumen tersebut juga mengungkap upaya Epstein untuk membawa wanita-wanita muda dari Rusia ke Eropa dan Amerika Serikat, menambah lapisan gelap pada kasusnya.
Tak hanya dugaan menjadi mata-mata Rusia, Epstein juga pernah dicurigai memiliki hubungan dengan intelijen Israel. Kecurigaan ini muncul dari keterangan seorang informan Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang menyebut Epstein pernah dilatih sebagai mata-mata di bawah mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menunjukkan kompleksitas jaringan dan dugaan keterlibatan Epstein yang meluas.

