Internationalmedia.co.id – News – Sebuah tragedi pembunuhan-bunuh diri yang merenggut nyawa empat anggota keluarga di Mosman Park, Perth, telah mengguncang Australia, memicu perdebatan serius mengenai sistem dukungan bagi orang tua yang merawat anak-anak dengan disabilitas. Insiden mengerikan ini, yang ditemukan pada Jumat, 30 Januari lalu, menyoroti celah dalam bantuan sosial yang tersedia.
Kepolisian Australia Barat mengonfirmasi bahwa personelnya menanggapi panggilan darurat ke sebuah kediaman di Mosman Park pada tanggal tersebut, menemukan empat jenazah: sepasang suami istri paruh baya dan dua putra remaja mereka. Sebuah catatan ditemukan di lokasi kejadian, bersama dengan tiga hewan peliharaan yang juga tewas, mengindikasikan kuat adanya tindak pembunuhan-bunuh diri.

Meskipun identitas korban tidak diungkapkan secara resmi oleh otoritas, media lokal secara luas melaporkan bahwa mereka adalah Maiwenna Goasdoue, seorang wanita kelahiran Prancis, suaminya Jarrod Clune, serta kedua putra mereka, Leon dan Otis. Akun media sosial Goasdoue sebelumnya menampilkan potret keluarga yang ceria, menikmati momen di pantai dan perayaan ulang tahun. Namun, di balik citra tersebut, kedua putra mereka diketahui mengidap autisme.
"Kami memahami bahwa kedua anak tersebut menghadapi tantangan kesehatan yang signifikan. Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan bagi semua pihak yang terlibat," ujar Pelaksana Tugas Inspektur Detektif Jessica Securo kepada wartawan, menggarisbawahi kompleksitas kasus ini.
Laporan dari sahabat keluarga yang dikutip media lokal menyebutkan bahwa Goasdoue dan Clune diduga merasa kewalahan dan ditinggalkan, lantaran tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari Skema Asuransi Disabilitas Nasional (NDIS) Australia. Isu ini sontak memicu kritik terhadap efektivitas dan jangkauan layanan NDIS.
Menteri Disabilitas Australia, Mark Butler, menggambarkan insiden ini sebagai "tragedi yang mengerikan" namun menolak berkomentar lebih lanjut mengenai dugaan kegagalan sistem.
Sementara itu, Komisioner Diskriminasi Disabilitas Australia, Rosemary Kayess, menyuarakan keprihatinan mendalam atas pemberitaan media yang cenderung mengaitkan tindakan ekstrem ini dengan kurangnya dukungan. "Pembunuhan bukanlah pilihan," tegas Kayess. "Kita harus menolak gagasan bahwa disabilitas adalah beban. Setiap anak berhak atas kehidupan, keselamatan, dan dukungan, dan keluarga-keluarga harus memiliki akses terhadap bantuan jauh sebelum krisis terjadi." Pernyataan ini menegaskan perlunya perubahan perspektif dan peningkatan aksesibilitas layanan.
Tragedi di Perth ini bukan hanya sebuah kasus kriminal, melainkan cerminan dari tantangan sistemik yang dihadapi banyak keluarga dengan anggota disabilitas. Peristiwa ini mendesak pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi kembali bagaimana dukungan diberikan, memastikan bahwa tidak ada lagi keluarga yang merasa terisolasi dan putus asa hingga mencapai titik kritis.

