Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home ยป Presiden Israel Terancam Diringkus di Australia
Trending Indonesia

Presiden Israel Terancam Diringkus di Australia

GunawatiBy Gunawati05-02-2026 - 21.15Tidak ada komentar3 Mins Read2 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Presiden Israel Terancam Diringkus di Australia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia, yang seharusnya menjadi momen penghormatan bagi korban penembakan massal di Pantai Bondi, justru memicu gelombang desakan penangkapan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa seruan untuk meringkus Herzog saat tiba di Canberra datang dari berbagai pihak, termasuk seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka.

Desakan ini secara spesifik disuarakan oleh Chris Sidoti, seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka yang juga anggota Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB. Komisi tersebut, yang bertugas menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di Israel dan wilayah Palestina, sebelumnya pada tahun 2025 telah menyatakan bahwa Herzog "menghasut terjadinya genosida". Pernyataan ini didasarkan pada komentar Herzog yang menyebut "seluruh bangsa" Palestina bertanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Presiden Israel Terancam Diringkus di Australia
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dia harus ditangkap jika dia datang," tegas Sidoti dalam seruannya kepada pemerintah Australia, seperti dilansir AFP pada Kamis (5/2/2026).

Sidoti tidak hanya menyerukan penangkapan, tetapi juga secara terang-terangan mendesak agar undangan kepada Herzog dicabut. Ia bahkan menyebut keputusan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, untuk mengundang kepala negara Israel tersebut sebagai "kesalahan bodoh". "Itu keputusan yang salah, dan itu perlu dibatalkan sebelum terlambat," tambahnya dalam pernyataan kepada AFP.

Kunjungan Herzog sendiri dijadwalkan berlangsung selama empat hari, dimulai Senin (9/2) pekan depan, dengan agenda utama bertemu komunitas Yahudi di Australia. Undangan ini muncul menyusul insiden penembakan massal tragis pada 14 Desember 2025 di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan sedikitnya 15 orang. Penembakan tersebut terjadi saat festival Hanukkah sedang berlangsung, sebuah peristiwa yang sangat mengguncang komunitas Yahudi setempat.

Di sisi lain, Israel dengan tegas menolak laporan penyelidikan PBB tersebut, menggambarkannya sebagai "menyimpang dan salah", serta menyerukan pembubaran badan investigasi itu.

Respons Pemerintah Australia dan Gelombang Protes

Menanggapi gelombang kritik, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, membela keputusan pemerintah. Wong menjelaskan bahwa Presiden Herzog diundang atas keinginan komunitas Yahudi di Australia. "Presiden Herzog diundang ke Australia untuk menghormati para korban Bondi dan untuk bersama serta memberikan dukungan kepada komunitas Yahudi Australia setelah serangan teroris dan serangan anti-Semitisme terburuk di tanah kita yang pernah kita saksikan," jelas Wong.

Sementara itu, aktivis pro-Palestina di Australia telah menyerukan serangkaian protes di berbagai wilayah, termasuk Sydney, untuk menentang kunjungan Herzog. Mereka menyuarakan solidaritas dengan Palestina dan menuntut pertanggungjawaban atas tindakan Israel.

Insiden penembakan di Pantai Bondi, Sydney, yang menjadi latar belakang kunjungan Herzog, memang merupakan peristiwa kelam. Serangan pada Minggu malam tersebut merenggut nyawa 15 orang dan melukai puluhan lainnya. Kepolisian New South Wales, Australia, dengan cepat mengidentifikasi dan mendakwa Naveed Akram sebagai tersangka utama. Ia menghadapi dakwaan terorisme, 15 dakwaan pembunuhan, dan sejumlah kejahatan serius lainnya.

Pihak berwenang menyatakan bahwa Naveed, bersama ayahnya Sajid Akram, melepaskan tembakan di festival Yahudi tersebut. Indikasi awal menunjukkan serangan ini diilhami oleh ISIS, sebuah organisasi teroris yang terdaftar di Australia, dengan tujuan memajukan tujuan keagamaan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Di antara para korban yang tewas terdapat seorang anak perempuan berusia 10 tahun, dua penyintas Holocaust, serta sepasang suami istri yang gugur saat berupaya menggagalkan serangan. Dua bendera ISIS buatan sendiri ditemukan di dalam mobil yang terdaftar atas nama Naveed, diparkir tidak jauh dari lokasi kejadian.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Dalang Penutupan Selat Hormuz Dikabarkan Tewas

26-03-2026 - 16.45

26-03-2026 - 16.30

Resolusi PBB Guncang Iran Saudi Beri Sinyal Tegas

26-03-2026 - 16.15

Abu Dhabi Merana Rudal Balistik Dihadang

26-03-2026 - 16.00

Iran Punya Syarat Mengejutkan untuk AS

26-03-2026 - 12.15

Iran Siap Akhiri Perang Tapi Ini Syaratnya

26-03-2026 - 12.00
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.