Ramallah – Sebuah keputusan bersejarah telah diumumkan oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas, menetapkan tanggal 1 November sebagai hari digelarnya pemilu parlemen. Ini menandai momen krusial, di mana rakyat Palestina untuk pertama kalinya akan berpartisipasi dalam pemilihan langsung untuk anggota parlemen mereka. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pengumuman ini disampaikan melalui dekrit presiden.
Dekrit presiden yang dilaporkan oleh kantor berita Palestina, WAFA, pada Senin (2/2) waktu setempat, dan kemudian dilansir oleh berbagai media termasuk AFP, secara gamblang menyatakan bahwa pemilu ini akan memilih langsung anggota Dewan Nasional Palestina (PNC). PNC sendiri adalah badan legislatif kunci bagi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Dalam dekritnya, Presiden Abbas menegaskan bahwa pemungutan suara akan memungkinkan partisipasi seluas-luasnya dari seluruh rakyat Palestina, baik yang berada di dalam wilayah Palestina maupun di luar negeri. "Pemilu akan diadakan di mana pun yang memungkinkan, baik di dalam maupun di luar Palestina, untuk memastikan partisipasi seluas mungkin dari rakyat Palestina di mana pun mereka berada," bunyi kutipan dari dekrit tersebut, yang dikeluarkan oleh Presiden Otoritas Palestina dan PLO.
Dekrit kepresidenan itu juga menguraikan prinsip-prinsip utama pemilu, yakni "sesuai dengan prinsip perwakilan proporsional sepenuhnya, menjamin perwakilan yang adil untuk semua segmen rakyat Palestina, termasuk perempuan, pemuda, dan komunitas Palestina di luar negeri." Untuk menjamin integritas dan transparansi, "Komisi Pemilihan Pusat akan memiliki pengawasan penuh atas proses pemilu," demikian bunyi tambahan dalam dekrit tersebut.
Langkah ini menjadi sangat signifikan karena akan menjadi kali pertama anggota PNC dipilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Palestina. Di masa lalu, para anggota dewan biasanya diangkat atau dipilih dari dalam gerakan-gerakan politik yang ada, bukan melalui mekanisme pemungutan suara umum.
Secara historis, PNC telah berfungsi sebagai parlemen PLO di pengasingan dan didominasi oleh Fatah, gerakan politik yang dipimpin oleh Presiden Abbas dan didirikan bersama mendiang Yasser Arafat, pemimpin bersejarah Palestina yang wafat pada tahun 2004. Penting untuk dicatat bahwa kelompok-kelompok seperti Hamas dan Jihad Islam Palestina, yang memiliki basis kuat di Jalur Gaza dan bukan merupakan anggota PLO, tidak memiliki perwakilan dalam dewan ini.

