Internationalmedia.co.id – News – Washington DC. Gelombang kehebohan melanda publik menyusul dirilisnya dokumen-dokumen kasus mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Berkas-berkas yang baru dibuka oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (30/1/2026) ini memuat sejumlah informasi mengejutkan, menyeret nama-nama tokoh terkemuka dari berbagai kalangan.
Pengungkapan dokumen ini merupakan amanat dari undang-undang yang disahkan oleh parlemen AS pada November tahun lalu, yang mewajibkan transparansi penuh atas seluruh materi terkait kasus Epstein. Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, dalam konferensi pers yang dikutip Reuters dan AFP pada Sabtu (31/1/2026), menegaskan bahwa publikasi ini menandai berakhirnya proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif, demi menjamin akuntabilitas kepada rakyat Amerika.

Blanche merinci, kumpulan dokumen yang dirilis mencakup lebih dari tiga juta halaman, 2.000 video, dan 180.000 gambar. Ia juga menjelaskan adanya penyensoran ekstensif pada beberapa bagian, sesuai pengecualian hukum yang memungkinkan penutupan informasi tertentu, seperti identitas korban atau materi yang terkait dengan investigasi aktif.
Mengenai lambatnya proses pembukaan dokumen, Blanche memberikan pembelaan. Ia menyebut volume berkas yang masif ini menuntut kerja keras ratusan pengacara yang bekerja siang dan malam selama berminggu-minggu. Penyensoran yang teliti juga krusial untuk melindungi identitas lebih dari 1.000 korban Epstein. Meskipun Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein menargetkan publikasi paling lambat 19 Desember 2025, pejabat terkait membutuhkan waktu tambahan untuk mengkaji seluruh materi.
Mantan Presiden Donald Trump, yang memiliki koneksi dengan Epstein pada era 1990-an hingga awal 2000-an sebelum akhirnya berselisih, sempat menolak publikasi dokumen ini. Namun, Kongres AS, termasuk Partai Republik, akhirnya mengajukan undang-undang yang memaksa pengungkapan tersebut. Departemen Kehakiman AS, dalam siaran persnya, menyebut beberapa dokumen berisi "klaim tidak benar dan sensasional" terhadap Trump yang diserahkan kepada FBI sebelum pemilu 2020. Klaim tersebut ditegaskan tidak berdasar dan salah. Blanche, yang pernah menjadi pengacara pribadi Trump, membantah tuduhan adanya upaya melindungi siapa pun, termasuk Trump, dalam proses penyensoran. "Kami tidak melindungi Presiden Trump. Kami tidak melindungi siapa pun," tegasnya.
Kematian Epstein pada tahun 2019 di sel penjara saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks, yang dinyatakan sebagai bunuh diri, telah memicu berbagai teori konspirasi dan terus menjadi beban politik bagi beberapa tokoh.
Nama Bill Gates dalam Korespondensi Mengejutkan
Salah satu nama besar yang muncul berulang kali dalam korespondensi email Epstein adalah pendiri Microsoft, Bill Gates. Dalam email tertanggal 3 Maret 2017, yang diungkap internationalmedia.co.id dari media Turki Haberler (Selasa, 3/2/2026), dibahas serangkaian topik penting yang mencakup simulasi pandemi, senjata neuroteknologi, data kesehatan digital, penyakit kronis dan ilmu otak, serta ekonomi kesehatan.
Pembahasan simulasi pandemi ini menjadi sorotan tajam, mengingat email tersebut dikirim sekitar tiga tahun sebelum pandemi virus Corona (COVID-19) melumpuhkan dunia. Korespondensi yang ditujukan langsung kepada Gates, yang disapa akrab sebagai "Bill," serta Larry Cohen (CEO Gates Ventures), memicu gelombang spekulasi mengenai cakupan hubungan dan proyek yang mungkin mereka diskusikan.
Bill Clinton dan Pangeran Andrew Didesak Bersaksi
Mantan Presiden AS Bill Clinton dan istrinya, Hillary Clinton, juga disebut dalam dokumen ini. Keduanya kini menyatakan kesediaan untuk memberikan kesaksian langsung dalam penyelidikan DPR AS terkait Epstein, setelah sebelumnya menolak. Juru bicara Clinton, Angela Urena, mengonfirmasi kesediaan mereka melalui media sosial X, dengan harapan dapat menetapkan preseden bagi semua pihak.
Dari Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer mendesak mantan Pangeran Andrew untuk bersaksi di hadapan komite Kongres AS. Dokumen Epstein menunjukkan Andrew tetap berkomunikasi rutin dengan Epstein selama lebih dari dua tahun setelah Epstein dihukum atas kejahatan seksual anak pada tahun 2008. Foto-foto yang tampaknya menunjukkan Andrew bersama seorang wanita tak dikenal juga muncul. Starmer menekankan pentingnya bagi Andrew untuk menjelaskan semua yang diketahuinya demi membantu para korban. Raja Charles sendiri telah melucuti gelar kebangsawanannya dan mengusir Andrew dari kediaman resmi di Kastil Windsor setelah terungkapnya hubungan ini. Andrew, yang kini menggunakan nama keluarga Mountbatten-Windsor, membantah melakukan pelanggaran hukum dan sebelumnya membantah terus menjalin kontak dengan Epstein setelah tahun 2008, kecuali satu kunjungan pada 2010 untuk mengakhiri hubungan mereka.
Meskipun dokumen-dokumen ini memicu banyak pertanyaan dan spekulasi liar, otoritas terkait menekankan bahwa peninjauan masih berlangsung dan publik diimbau untuk berhati-hati dalam interpretasi isinya.

