Jakarta – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pejabat keamanan senior Rusia sekaligus mantan Presiden, Dmitry Medvedev, baru-baru ini menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia memperingatkan akan bahaya besar jika perjanjian pengendalian senjata nuklir krusial antara Amerika Serikat dan Rusia dibiarkan kedaluwarsa, sebuah skenario yang menurutnya dapat mempercepat laju ‘jam kiamat’ simbolis.
Perjanjian New START, sebuah pakta penting yang ditandatangani oleh Medvedev sendiri pada tahun 2010 ketika ia masih menjabat sebagai kepala negara Rusia, kini berada di ambang batas. Tanpa adanya kesepakatan menit-menit terakhir antara Moskow dan Washington, pakta ini akan berakhir dalam waktu dekat, memicu kekhawatiran global.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah mengisyaratkan kesediaannya untuk membiarkan perjanjian ini berakhir. Ia menolak tawaran Moskow untuk memperpanjang secara sukarela batasan penempatan senjata nuklir strategis – yang dikenal sebagai senjata ampuh dengan jangkauan jauh dan daya ledak tinggi – dengan alasan ingin mencapai "perjanjian yang lebih baik".
Dalam pernyataannya kepada Reuters, Medvedev menekankan bahwa meskipun berakhirnya perjanjian ini tidak serta-merta berarti bencana dan dimulainya perang nuklir, namun hal tersebut "tetap harus membuat semua orang khawatir". Ia menambahkan, "Waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat," merujuk pada ‘jam kiamat’ simbolis yang secara metaforis mengukur kemungkinan bencana buatan manusia yang menghancurkan dunia.
Amerika Serikat juga telah berulang kali menyarankan agar Tiongkok, yang memiliki kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia, turut bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata. Namun, Beijing hingga kini belum menunjukkan keinginan untuk terlibat. Dalam sebuah wawancara dengan New York Times bulan lalu, Trump menegaskan kembali posisinya mengenai New START: "Jika berakhir, ya berakhir… Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik."
Ikuti terus perkembangan berita terkini di internationalmedia.co.id.

