Ketegangan diplomatik antara Afrika Selatan dan Israel mencapai titik didih, ditandai dengan aksi saling usir diplomat senior dari kedua belah pihak. Langkah drastis ini semakin memperkeruh hubungan bilateral yang sudah rapuh. Pada Minggu (1/2/2026), Internationalmedia.co.id – News melaporkan perkembangan terbaru dari krisis ini, di mana kedua negara menanggapi tindakan satu sama lain dengan pembalasan setimpal.
Awal mula eskalasi terjadi ketika otoritas Afrika Selatan mengumumkan pengusiran Wakil Duta Besar Israel, Ariel Seidman, dari wilayahnya. Seidman, yang merupakan diplomat Israel paling senior di Pretoria setelah penarikan Duta Besar pada tahun 2023, dinyatakan sebagai persona non grata pada Jumat (30/1) waktu setempat dan diberi waktu 72 jam untuk meninggalkan negara tersebut.

Departemen Hubungan Internasional dan Kerja Sama Afrika Selatan (DIRCO) menuding Seidman melakukan serangkaian "pelanggaran norma diplomatik yang tidak dapat ditoleransi" yang secara langsung menantang kedaulatan Afrika Selatan. Pelanggaran tersebut mencakup "serangan yang menghina" terhadap Presiden Cyril Ramaphosa melalui unggahan di media sosial, meskipun detail mengenai isi unggahan tersebut tidak dirinci. Selain itu, Seidman juga dituduh melanggar protokol diplomatik dengan "kelalaian yang disengaja" untuk memberitahu DIRCO mengenai dugaan kunjungan seorang pejabat tinggi Israel ke Afrika Selatan.
"Tindakan semacam itu merupakan penyalahgunaan hak istimewa diplomatik yang serius dan pelanggaran mendasar terhadap Konvensi Wina," tegas DIRCO dalam pernyataannya. "Tindakan tersebut secara sistematis telah merusak kepercayaan dan protokol yang esensial untuk hubungan bilateral." Pretoria mendesak pemerintah Israel untuk memastikan perilaku diplomatik mereka di masa depan mencerminkan rasa hormat terhadap Republik Afrika Selatan dan prinsip-prinsip keterlibatan internasional yang telah ditetapkan.
Pengusiran ini terjadi di tengah hubungan diplomatik yang sangat tegang, terutama setelah Afrika Selatan – yang merupakan pendukung lama Palestina – mengajukan gugatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ), menuduh Tel Aviv melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Israel dengan tegas membantah tuduhan tersebut, balik menuduh Afrika Selatan bertindak sebagai "lengan hukum" kelompok Hamas.
Israel Balas dengan Tindakan Serupa
Tidak butuh waktu lama, Israel membalas dengan tindakan serupa. Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan pengusiran diplomat senior Afrika Selatan, Shaun Edward Byneveldt, dari wilayahnya. Pengumuman ini disampaikan hanya berselang beberapa jam setelah Pretoria mengumumkan pengusiran Ariel Seidman.
Byneveldt, yang berdasarkan informasi dari situs resmi pemerintah Afrika Selatan menjabat sebagai Duta Besar Afrika Selatan untuk Negara Palestina dan berkantor di Ramallah, Tepi Barat, juga dinyatakan sebagai persona non grata. Ia diberikan waktu 72 jam untuk segera meninggalkan Israel. "Langkah-langkah tambahan akan dipertimbangkan pada waktunya," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel yang dibagikan melalui media sosial.
Aksi saling usir diplomat ini menandai babak baru dalam krisis diplomatik antara kedua negara, memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan bilateral mereka di tengah konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

