Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan harapannya untuk menghindari aksi militer terhadap Iran, meskipun ketegangan di kawasan Teluk terus memanas. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Trump menyatakan sedang dalam pembicaraan dengan Teheran, membuka peluang untuk mencegah eskalasi konflik. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis (29/1) waktu setempat, menyusul peringatan sebelumnya dari AS bahwa waktu bagi Iran "hampir habis" dan pengiriman armada angkatan laut besar ke wilayah tersebut.
Ketika ditanya oleh wartawan apakah ia akan berdialog dengan Iran, Trump menegaskan, "Saya telah melakukannya dan saya berencana untuk melakukannya." Ia menambahkan, "Kita memiliki kelompok yang menuju ke tempat bernama Iran, dan mudah-mudahan kita tidak perlu menggunakannya," merujuk pada kekuatan militer yang dikerahkan. Pernyataan ini disampaikan saat ia menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania.

Di sisi lain, Iran telah mengeluarkan ancaman balasan serius. Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, memperingatkan bahwa respons Teheran terhadap setiap tindakan AS tidak akan terbatas seperti insiden Juni tahun lalu, ketika pesawat tempur dan rudal Amerika terlibat dalam perang udara singkat Israel melawan Iran. Akraminia menekankan bahwa respons kali ini akan "tegas" dan "dilakukan secara instan."
Berbicara kepada televisi pemerintah Iran, Akraminia menyoroti "kerentanan serius" pada kapal induk AS dan menyatakan bahwa banyak pangkalan militer Amerika di wilayah Teluk berada "dalam jangkauan rudal jarak menengah kita." Ia juga menantang persepsi AS tentang konflik, dengan mengatakan, "Jika kesalahan perhitungan seperti itu dilakukan oleh Amerika, itu tentu tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Trump — melakukan operasi cepat dan kemudian, dua jam kemudian, membuat cuitan bahwa operasi telah selesai."
Kekhawatiran akan potensi serangan AS terhadap Iran juga sangat terasa di kalangan pejabat regional. Seorang pejabat di Teluk, yang negaranya menjadi tuan rumah situs militer AS, mengungkapkan kepada kantor berita AFP pada Jumat (30/1/2026) bahwa kekhawatiran tersebut "sangat jelas." Ia memperingatkan bahwa konflik semacam itu "akan membawa kekacauan di kawasan itu, akan merugikan perekonomian tidak hanya di kawasan itu, tetapi juga di AS dan menyebabkan harga minyak dan gas meroket."
Dengan kedua belah pihak menunjukkan kekuatan dan ancaman, serta upaya diplomasi yang masih terbuka, situasi di Teluk tetap berada di ujung tanduk, menanti apakah pembicaraan dapat meredakan ketegangan ataukah ancaman akan berujung pada konfrontasi.

