Gelombang kericuhan yang dipicu oleh demonstrasi massal akibat kenaikan biaya hidup dan anjloknya nilai mata uang di Iran terus memburuk, menelan korban jiwa yang semakin banyak. Menanggapi situasi genting ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara tegas melontarkan ancaman keras terhadap rezim Teheran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Republik Islam tersebut mencapai puncaknya setelah serangkaian insiden mematikan.
Berbagai laporan dari kantor berita semi-resmi Fars, kelompok hak asasi manusia Hengaw, serta media internasional seperti AFP, BBC, dan Al Arabiya, pada Jumat (2/1/2026) mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dalam bentrokan di Lordegan, tiga di Azna, dan satu di Kouhdasht. Awalnya, identitas korban belum jelas, namun Hengaw kemudian mengklaim bahwa dua korban di Lordegan adalah demonstran. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan seorang anggota pasukan keamanan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas di Kouhdasht. Video-video yang beredar di media sosial pada Kamis (1/1) juga memperlihatkan pemandangan mobil-mobil terbakar di tengah bentrokan sengit antara massa dan aparat keamanan.

Protes yang kini memasuki hari kelima ini bermula dari kemarahan para pemilik toko di Teheran akibat anjloknya nilai rial Iran terhadap dolar AS, yang memicu krisis biaya hidup. Gelombang ketidakpuasan ini dengan cepat menyebar ke berbagai kota, termasuk Lordegan, Marvdasht, dan bahkan melibatkan mahasiswa universitas sejak Selasa lalu. Para demonstran tidak hanya menuntut perbaikan ekonomi, tetapi juga menyuarakan tuntutan politik yang radikal, termasuk seruan untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin tertinggi negara itu dan bahkan mengembalikan sistem monarki. Skala protes kali ini disebut-sebut sebagai yang paling meluas sejak pemberontakan besar pada tahun 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan.
Menanggapi eskalasi ini, pemerintah Iran telah mengambil langkah-langkah drastis. Pada Rabu (31/12/2025), sekolah, universitas, dan lembaga publik di seluruh negeri ditutup dengan alasan resmi untuk menghemat energi di tengah cuaca dingin, meskipun banyak pihak meyakini langkah ini adalah upaya terselubung untuk meredam gelombang protes. Keamanan juga diperketat secara signifikan di area-area kunci Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredakan ketegangan dengan menyatakan kesediaan pemerintah untuk mendengarkan ‘tuntutan sah’ para demonstran. Namun, nada berbeda datang dari Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi-Azad, yang memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menciptakan ketidakstabilan akan dihadapi dengan ‘tanggapan tegas’ dari aparat.
Di tengah gejolak internal Iran, perhatian dunia tertuju pada pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump. Melalui platform Truth Social, Trump mengeluarkan ultimatum yang mengancam intervensi langsung. "Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka," tegas Trump. Ia menambahkan, "Kami siap siaga dan siap bertindak." Pernyataan ini secara signifikan meningkatkan tensi internasional, menempatkan AS dalam posisi siaga menghadapi kemungkinan tindakan lebih lanjut di Iran.
