Internationalmedia.co.id Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak mentah-mentah usulan rencana perdamaian dari Amerika Serikat (AS) yang dianggapnya menempatkan Ukraina pada pilihan sulit: kehilangan martabat atau kehilangan dukungan dari sekutu utama. Rencana yang digadang-gadang didukung oleh Presiden Donald Trump tersebut, mengharuskan Ukraina untuk menyerahkan sebagian wilayah timurnya kepada Rusia.
Zelensky dalam pidatonya yang disiarkan melalui media sosial, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap Ukraina saat ini sangat berat. Ia merasa dihadapkan pada pilihan yang pahit, antara mempertahankan harga diri bangsa atau berisiko kehilangan dukungan dari AS, mitra utama yang selama ini membantu Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

"Saat ini adalah salah satu momen paling sulit dalam sejarah kita," tegas Zelensky. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan mengkhianati Ukraina dan akan mengusulkan alternatif terhadap rencana perdamaian yang dianggap merugikan tersebut.
Rencana perdamaian usulan AS yang terdiri dari 28 poin, memang menuai kontroversi. Selain mewajibkan penyerahan wilayah, rencana tersebut juga mengharuskan Ukraina untuk memangkas jumlah pasukan militernya dan mengakui wilayah yang dikuasai Rusia sebagai bagian de facto dari Rusia. Sebagai imbalannya, Ukraina dijanjikan jaminan keamanan dan pendanaan untuk rekonstruksi.
Namun, usulan ini ditentang keras oleh negara-negara Eropa, yang menganggapnya sebagai bentuk penyerahan diri. Zelensky sendiri berencana untuk berbicara langsung dengan Trump guna menyampaikan argumen dan mengusulkan alternatif yang lebih baik bagi Ukraina.
"Saya akan menyampaikan argumen, saya akan membujuk, saya akan mengusulkan alternatif," ujarnya. Ia menegaskan kembali komitmennya untuk tidak mengkhianati Ukraina, seperti yang telah ia buktikan sejak awal invasi Rusia pada Februari 2022. Internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi ini.

