Kancah politik Jepang kembali diramaikan dengan pengukuhan kembali Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri (PM). Kepemimpinan Takaichi dipastikan berlanjut setelah meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pengangkatan ini menandai babak baru bagi sang pemimpin wanita yang dikenal dengan visi strategisnya.
Dilansir dari AFP pada Rabu (18/2/2026), proses pengukuhan ini berlangsung sepuluh hari pasca kemenangan Takaichi. Sosok yang sebelumnya telah mencetak sejarah sebagai Perdana Menteri wanita pertama Jepang sejak Oktober lalu ini, berhasil memenangkan mayoritas dua pertiga untuk partainya dalam pemilihan majelis rendah mendadak pada 8 Februari. Kemenangan tersebut mengukuhkan posisinya dengan mandat yang kuat dari rakyat.

Takaichi sendiri menegaskan bahwa kemenangan elektoral yang diraihnya merupakan cerminan jelas dari aspirasi publik akan "pergeseran kebijakan yang substansial." Ini mencakup penekanan pada kebijakan fiskal yang bertanggung jawab namun proaktif, penguatan fundamental sektor keamanan, serta peningkatan kapasitas intelijen pemerintah.
Lebih lanjut, Takaichi juga berencana untuk memprakarsai legislasi guna membentuk Badan Intelijen Nasional. Dalam pidato kebijakan yang dijadwalkan pada Jumat mendatang, ia akan berjanji untuk memperbarui kerangka strategis "Indo-Pasifik Bebas dan Terbuka" (FOIP) Jepang, demikian menurut laporan media lokal.
Juru bicara utama pemerintah, Minoru Kihara, pada Senin lalu, juga menyoroti bahwa kondisi internasional dan lingkungan keamanan di sekitar Jepang telah memburuk secara signifikan dibandingkan saat FOIP pertama kali digagas. Hal ini menggarisbawahi urgensi pembaruan strategi tersebut di bawah kepemimpinan Takaichi.

