Washington, Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (27/3/2026), secara mengejutkan mengungkapkan sebuah opsi strategis yang berpotensi mengguncang geopolitik Timur Tengah: rencana untuk mengambil alih kendali cadangan minyak Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump seraya mengklaim keberhasilan serupa dalam penanganan krisis di Venezuela.
Dalam sebuah sesi rapat kabinet, ketika dicecar pertanyaan mengenai kemungkinan intervensi terhadap sektor minyak Iran, Trump dengan tegas menjawab, "Itu adalah sebuah pilihan." Ia kemudian melanjutkan dengan menyoroti apa yang ia sebut sebagai keberhasilan luar biasa pemerintahannya dalam mengelola cadangan minyak Venezuela, pasca penggulingan rezim Nicolas Maduro. Ini mengindikasikan bahwa model intervensi di Venezuela bisa menjadi preseden bagi tindakan serupa terhadap Teheran.

Pernyataan kontroversial Trump ini muncul di tengah upaya berkelanjutan Washington untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Meskipun demikian, upaya tersebut menemui jalan buntu setelah Teheran secara terang-terangan menolak tawaran negosiasi dari Amerika Serikat guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Menanggapi penolakan tersebut, menurut laporan AFP, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran agar segera serius dalam pembahasan negosiasi damai, menegaskan bahwa waktu terus berjalan "sebelum terlambat." Peringatan ini semakin memperkeruh suasana, mengingat pernyataan Israel baru-baru ini yang mengklaim telah menewaskan seorang komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran. Israel menuduh komandan tersebut bertanggung jawab langsung atas gangguan pelayaran di Selat Hormuz sejak pecahnya konflik, sebuah insiden yang semakin meningkatkan tensi di kawasan.

