Internationalmedia.co.id – News melaporkan dari Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melayangkan peringatan tegas kepada Republik Islam Iran, menyoroti ‘konsekuensi serius jika kesepakatan gagal tercapai’. Peringatan ini muncul menjelang putaran pembicaraan krusial antara kedua negara yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Selasa (17/2).
Dalam pernyataannya kepada wartawan saat dalam perjalanan menuju Washington, Trump mengindikasikan keterlibatannya dalam proses negosiasi, meskipun ‘secara tidak langsung’. Ia juga menambahkan, "Saya tidak berpikir mereka menginginkan konsekuensi jika tak mencapai kesepakatan," menegaskan pandangannya terhadap potensi risiko yang dihadapi Teheran.

Pembicaraan terbaru yang dimediasi oleh Oman ini bukan tanpa latar belakang. Sebelumnya, Trump berulang kali melontarkan ancaman tindakan militer terhadap Teheran, terutama terkait penindakan brutal terhadap protes anti-pemerintah dan, yang paling baru, mengenai program nuklir kontroversial negara tersebut.
Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa telah lama menyuarakan kekhawatiran mendalam bahwa program nuklir Iran ditujukan untuk pengembangan senjata, sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Teheran. Selain isu nuklir, Washington juga mendesak pembahasan mengenai topik lain, termasuk program misil balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin pagi mengindikasikan adanya pergeseran. Mereka menyebut bahwa "Posisi AS terkait masalah nuklir Iran telah bergerak ke arah yang lebih realistis," memberikan sedikit harapan di tengah ketegangan. Namun, sejarah mencatat upaya negosiasi sebelumnya pernah kandas, terutama setelah serangan Israel ke Iran yang memicu perang 12 hari, diikuti dengan pemboman situs nuklir Iran oleh AS, menunjukkan betapa rapuhnya jalan diplomasi ini.
Dengan latar belakang sejarah yang kompleks dan ancaman yang terus membayangi, pembicaraan di Jenewa kali ini menjadi sangat krusial dalam menentukan arah hubungan AS-Iran ke depan.

