Washington DC – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru-baru ini mengungkapkan bahwa perundingan yang berlangsung antara delegasi AS dan Iran di Kesultanan Oman telah berjalan "sangat baik". Trump bahkan mengisyaratkan kelanjutan dialog penting ini pada awal pekan depan, memicu spekulasi tentang potensi terobosan di tengah hubungan kedua negara yang kerap bergejolak.
Pertemuan yang digelar di Muscat, ibu kota Oman, pada Jumat (6/2) waktu setempat ini, menjadi sorotan tajam mengingat eskalasi ketegangan yang membayangi Washington dan Teheran. Dialog ini berlangsung tak lama setelah Iran menghadapi kecaman internasional atas penindakan brutal terhadap unjuk rasa antipemerintah di dalam negerinya.

Yang lebih signifikan, ini adalah putaran perundingan pertama sejak Washington melancarkan serangan udara terhadap situs-situs nuklir Teheran pada Juni tahun lalu. Serangan tersebut, yang terjadi di tengah konflik 12 hari antara Iran dan Israel, sebelumnya sempat membekukan upaya diplomatik antara AS dan Iran terkait program nuklir.
"Kami juga melakukan pembicaraan yang sangat baik mengenai Iran, Iran tampaknya sangat ingin mencapai kesepakatan," ujar Trump dalam pernyataan terbarunya, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (7/2). "Kita akan melakukan pertemuan lagi pada awal pekan depan," tambahnya kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One, saat menuju resor Mar-a-Lago di Florida.
Delegasi AS dalam perundingan krusial ini dipimpin oleh utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Menantu Trump, Jared Kushner, yang dikenal sebagai negosiator ulung dalam berbagai isu sensitif, juga turut mendampingi. Sementara itu, pihak Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi.
Pasca-perundingan, Teheran merespons dengan nada positif, memuji "suasana yang konstruktif" dalam dialog dengan Washington. Araghchi secara tegas menyatakan bahwa perundingan tersebut "secara eksklusif" berpusat pada program nuklir Iran, yang Teheran tegaskan bersifat damai, meskipun Barat kerap menuduhnya bertujuan untuk pengembangan bom atom.
Namun, delegasi AS, termasuk Witkoff, memiliki agenda yang lebih luas. Mereka berupaya memasukkan isu-isu seperti program rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan, serta perlakuan keras terhadap demonstran dalam daftar pembahasan.
"Dalam suasana yang sangat positif, argumen kami disampaikan dan pandangan pihak lain dibagikan kepada kami," ujar Araghchi kepada televisi pemerintah Iran. Ia menambahkan bahwa kedua belah pihak "sepakat untuk melanjutkan negosiasi," namun Araghchi menyuarakan harapan agar AS menahan diri dari "ancaman dan tekanan" demi kelangsungan pembicaraan.
Peringatan Araghchi ini muncul setelah Teheran sebelumnya mengingatkan terhadap ancaman militer lebih lanjut dari Washington. Menanggapi hal tersebut, Trump dengan tegas membalas, "Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, konsekuensinya sangat berat," menggarisbawahi taruhan tinggi dalam diplomasi yang sedang berlangsung ini.

