Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras bahwa "hal-hal buruk" berpotensi terjadi jika Republik Islam Iran gagal mencapai kesepakatan dengan Washington. Peringatan ini disampaikan Trump pada Senin waktu setempat, menyusul keputusan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk memulai pembicaraan nuklir dengan AS. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, situasi ini memicu kekhawatiran global akan eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Berbicara kepada awak media di Gedung Putih, Trump menegaskan posisi AS. "Saat ini kami sedang berdialog dengan mereka, kami sedang berbicara dengan Iran, dan jika kami dapat mencapai kesepakatan, itu akan sangat bagus," ujar Trump, seperti dikutip AFP. "Namun, jika tidak, mungkin hal-hal buruk akan terjadi." Meski menolak merinci kemungkinan tindakan militer, Trump menekankan bahwa "kekuatan besar," termasuk kapal induk yang telah ia kirim ke Timur Tengah, akan segera tiba di kawasan tersebut, mengindikasikan kesiapan AS untuk berbagai skenario.

Langkah Iran untuk membuka pintu dialog datang dari Presiden Masoud Pezeshkian sendiri. Kantor berita Iran Fars, bersama surat kabar pemerintah dan harian reformis Shargh, melaporkan pada Senin waktu setempat bahwa Pezeshkian telah memerintahkan "dimulainya pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir Iran," mengutip sumber pemerintah anonim.
Pertemuan krusial tersebut diperkirakan akan berlangsung di Turki pada Jumat mendatang. Seorang pejabat Arab, yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas isu, mengungkapkan kepada AFP bahwa mediasi dari Mesir, Qatar, Turki, dan Oman turut berperan dalam memfasilitasi pertemuan ini. Situs berita AS Axios juga mengonfirmasi, mengutip dua sumber anonim, bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu dengan utusan AS Steve Witkoff di Istanbul untuk membahas potensi kesepakatan nuklir.
Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran selalu terbuka untuk diplomasi yang didasari rasa saling menghormati, namun menolak bernegosiasi di bawah ancaman atau intimidasi. "Iran selalu siap untuk diplomasi dari posisi yang setara, dengan saling menghormati, dan untuk mengejar kepentingan bangsa Iran," ujar Araghchi. Ia menambahkan, "Siapa pun yang berbicara kepada bangsa Iran dengan hormat akan disambut dengan hormat, sementara siapa pun yang menggunakan ancaman dan kekerasan akan disambut dengan cara yang sama," menggarisbawahi sikap tegas Republik Islam tersebut dalam menghadapi tekanan internasional.

