Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunjukkan keheranan yang mendalam atas keteguhan Iran yang belum juga "menyerah" pada tuntutan pembatasan program nuklirnya, meskipun Washington telah mengerahkan kekuatan militer AS yang masif di kawasan Timur Tengah. Hal ini diungkapkan oleh Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pengerahan kekuatan militer ini bertujuan untuk menekan Teheran agar bersedia mencapai kesepakatan nuklir yang diinginkan AS.
Dalam wawancara dengan media AS, Fox News, Witkoff menuturkan bahwa Trump "penasaran" dengan sikap Teheran. "Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrasi’, karena dia memahami bahwa dirinya memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum… Saya tidak ingin menggunakan kata ‘menyerah’, tetapi mengapa mereka belum menyerah," kata Witkoff dalam wawancara yang direkam pada Kamis (19/2) dan ditayangkan pada Sabtu (21/2) waktu setempat. Ia melanjutkan, "Mengapa, di bawah tekanan sedemikian rupa, dengan kehadiran kekuatan laut dan angkatan udara yang signifikan, mereka belum juga datang kepada kami dan menyatakan kesediaan untuk berkompromi? Namun, agak sulit membuat mereka sampai pada titik itu."

Peningkatan kekuatan militer AS di kawasan itu, termasuk pengiriman dua kapal induk beserta jet tempur dan persenjataan lainnya, dimaksudkan sebagai sinyal tegas kepada Teheran. Washington menuntut Iran untuk menyerahkan uranium yang diperkaya—yang menurut AS berpotensi digunakan untuk bom—menghentikan dukungan terhadap kelompok militan di Timur Tengah, serta menerima pembatasan pada program rudalnya.
Di sisi lain, Teheran bersikukuh bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai. Mereka menyatakan kesediaan untuk menerima sejumlah pembatasan sebagai imbalan atas pencabutan sanksi keuangan, namun menolak keras pembahasan isu-isu lain seperti rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Witkoff juga menyoroti bahaya pengayaan uranium Iran yang telah mencapai 60 persen kemurnian fisil, memperingatkan bahwa Teheran mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki bahan pembuatan bom kelas industri, sebuah situasi yang sangat berbahaya.
Di tengah ketegangan ini, perundingan nuklir antara AS dan Iran telah kembali bergulir dalam beberapa pekan terakhir, dengan Oman berperan sebagai mediator untuk mencegah potensi aksi militer. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengindikasikan bahwa draf proposal kesepakatan dengan AS akan siap dalam hitungan hari, menyusul ultimatum Trump yang memberikan waktu paling lama 15 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan. Ancaman aksi militer masih membayangi, dengan AS yang telah menyiapkan potensi serangan udara, sementara Teheran mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan AS di kawasan jika diserang. Situasi ini mencerminkan kebuntuan diplomatik yang kompleks, di mana AS mencoba menekan Iran melalui kekuatan militer dan sanksi, sementara Iran tetap teguh pada posisinya, menolak untuk menyerah sepenuhnya pada tuntutan Washington.

