Washington DC – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman serius, menyatakan bahwa pasukannya akan melancarkan serangan yang jauh lebih keras terhadap Iran pada pekan depan. Pernyataan ini mengisyaratkan eskalasi signifikan dalam operasi militer gabungan AS dan Israel yang kini memasuki minggu ketiga, seperti dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News.
Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News Radio pada Jumat (13/3) waktu setempat, Trump menegaskan, "Kita akan menyerang mereka [Iran] dengan sangat keras selama pekan depan." Pernyataan ini, yang juga dikutip oleh kantor berita AFP, menggarisbawahi tekad Washington untuk menargetkan sasaran-sasaran strategis di Iran dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain ancaman militer, Trump juga menyuarakan keyakinannya bahwa kepemimpinan Iran pada akhirnya dapat digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Namun, ia mengakui bahwa hal tersebut mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. "Saya benar-benar berpikir itu merupakan rintangan besar yang harus diatasi bagi orang-orang yang tidak memiliki senjata," ujarnya. "Itu akan terjadi, tetapi mungkin tidak segera."
Pernyataan terbaru ini kontras dengan beberapa isyarat sebelumnya dari Trump yang sempat menunjukkan optimisme berlebihan mengenai kemajuan perang. Sebelumnya, ia pernah sesumbar "kita menang" melawan Iran, bahkan menyebut perang bisa berakhir "sangat segera". Namun, retorika dalam beberapa hari terakhir kembali mengindikasikan tekad bulat untuk melanjutkan konflik.
Pada Jumat (13/3), Trump secara eksplisit mengancam Iran dengan serangan lanjutan, terutama setelah pemimpin terbaru negara itu, Mojtaba Khamenei, memberikan sinyal perlawanan dan mengisyaratkan tidak akan ada pelonggaran perang. Konflik yang memicu gangguan serius terhadap aliran energi global serta pasar ini, membuat Trump berujar keras, "Kita memiliki kekuatan senjata yang tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan waktu yang banyak. Lihat apa yang akan terjadi terhadap para bajingan gila ini," menggunakan istilah kasar yang merujuk pada para pemimpin Iran.
Sejak 28 Februari lalu, AS dan Israel telah melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, memperluas cakupan konflik di kawasan tersebut.
Konflik ini juga menelan korban jiwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Saat ini, Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei, telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, mewarisi beban kepemimpinan di tengah gejolak perang.

