Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Trump Siap Gempur Iran Demi Tujuan Ini
Trending Indonesia

Trump Siap Gempur Iran Demi Tujuan Ini

GunawatiBy Gunawati31-01-2026 - 07.00Tidak ada komentar5 Mins Read3 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Trump Siap Gempur Iran Demi Tujuan Ini
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius opsi melancarkan serangan militer terhadap Iran. Langkah ini, menurut berbagai sumber, bertujuan untuk membangkitkan semangat para demonstran di Iran yang telah berbulan-bulan menyuarakan ketidakpuasan mereka.

Pertimbangan strategis semacam itu, sebagaimana dilansir oleh Reuters dan Al Arabiya pada Jumat (30/1/2026), diungkapkan oleh sejumlah sumber yang dikutip Reuters dalam laporannya pada Kamis (29/1) waktu setempat. Namun, para pejabat regional di Timur Tengah secara terpisah menyuarakan keraguan, menyatakan bahwa kekuatan udara saja tidak akan cukup untuk menggulingkan penguasa ulama yang telah lama berkuasa di Iran.

Trump Siap Gempur Iran Demi Tujuan Ini
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dua sumber internal pemerintah AS yang akrab dengan diskusi tersebut mengungkapkan kepada Reuters bahwa Presiden Trump berambisi menciptakan kondisi yang kondusif bagi "perubahan rezim" di Teheran. Keinginan ini muncul setelah tindakan keras pemerintah Iran terhadap unjuk rasa massal yang menewaskan ribuan orang di berbagai wilayah Iran pada awal bulan ini.

Untuk mewujudkan ambisinya, kedua sumber tersebut menambahkan, Trump sedang mengevaluasi berbagai opsi untuk menargetkan para komandan dan institusi Iran yang dianggap oleh AS sebagai pihak paling bertanggung jawab atas kekerasan terhadap demonstran.

Serangan untuk Membangkitkan Semangat Demonstran

Langkah militer semacam itu diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri di kalangan demonstran Iran, memotivasi mereka untuk berani menguasai gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas keamanan. Salah satu sumber dan seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa Trump belum membuat keputusan akhir mengenai tindakan yang akan diambil terhadap Iran, termasuk apakah akan menempuh jalur militer.

Keterangan dari sumber kedua di kalangan pemerintahan AS, yang dikutip Reuters, menyebutkan bahwa opsi yang sedang dibahas oleh para penasihat Trump juga mencakup serangan yang skalanya jauh lebih besar. Serangan ini dimaksudkan untuk memberikan dampak jangka panjang, kemungkinan menargetkan rudal buatan Teheran yang mampu menjangkau sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, atau bahkan program pengayaan nuklir Iran. Sejauh ini, Iran secara konsisten menolak bernegosiasi mengenai pembatasan rudal, yang mereka anggap sebagai satu-satunya penangkal terhadap Israel.

Kedatangan kapal induk AS beserta sejumlah kapal perang pendukung di Timur Tengah pekan ini telah memperluas kapabilitas Trump untuk berpotensi melakukan tindakan militer. Ini menyusul ancaman berulang kali dari Trump terkait intervensi atas tindakan keras Iran terhadap demonstran.

Namun, sejumlah pejabat regional dan Barat, yang pemerintahannya telah diberi pengarahan mengenai diskusi di Gedung Putih, menyatakan kekhawatiran. Mereka berpendapat bahwa serangan AS, alih-alih mendorong warga Iran kembali berdemo di jalanan, justru berisiko melemahkan gerakan protes yang meluas setelah penindasan berdarah. Alex Vatanka, Direktur Program Iran pada Middle East Institute, menuturkan bahwa tanpa pembelotan militer skala besar, unjuk rasa di Iran akan tetap "heroik tetapi kalah persenjataan."

Sementara itu, salah satu sumber Barat meyakini bahwa tujuan Trump tampaknya adalah memicu perubahan kepemimpinan di Iran, bukan "menggulingkan rezim" secara keseluruhan. Situasi ini disebut mirip dengan Venezuela, di mana intervensi AS berupaya mengganti presiden tanpa perubahan pemerintahan secara menyeluruh.

AS Menginginkan Lengsernya Pemimpin Iran

Dalam sidang Senat AS yang membahas Venezuela pada Rabu (28/1), Menteri Luar Negeri Marco Rubio melontarkan "harapan" untuk transisi serupa jika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, lengser. Kendati demikian, ia mengakui bahwa situasi di Iran jauh lebih rumit. Rubio sendiri mengaku tidak memiliki gambaran jelas mengenai siapa yang akan mengambil alih kekuasaan jika Khamenei kehilangan posisinya.

Terlepas dari itu, para pejabat AS berpendapat bahwa transisi kepemimpinan di Iran dapat memecah kebuntuan nuklir dan pada akhirnya membuka pintu bagi hubungan kerja sama yang lebih erat dengan Barat. Namun, ada peringatan serius mengenai tidak adanya penerus yang jelas untuk Khamenei. Jika terjadi kekosongan kekuasaan di Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) dipercayai dapat mengambil alih, yang berpotensi memperkuat pemerintahan garis keras serta semakin memperdalam kebuntuan nuklir dan ketegangan regional.

Trump Buka Peluang Tak Serang Iran

Di tengah semua pertimbangan militer tersebut, Trump juga menunjukkan sisi lain. Ia mengatakan sedang berbicara dengan Iran dan membuka kemungkinan untuk menghindari serangan militer. Pernyataan ini disampaikannya pada Kamis (29/1) waktu setempat, setelah sebelumnya memperingatkan bahwa waktu "hampir habis" bagi Teheran, seiring Amerika Serikat mengirimkan armada angkatan laut yang besar ke wilayah tersebut.

Dilansir kantor berita AFP, Jumat (30/1/2026), ketika ditanya apakah ia akan melakukan pembicaraan dengan Iran, Trump mengatakan kepada wartawan: "Saya telah melakukannya dan saya berencana untuk melakukannya."

"Kita memiliki kelompok yang menuju ke tempat bernama Iran, dan mudah-mudahan kita tidak perlu menggunakannya," imbuh presiden AS itu, saat berbicara kepada wartawan pada pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania.

Sebelumnya, juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, telah memperingatkan bahwa respons Teheran terhadap tindakan AS tidak akan terbatas seperti pada Juni tahun lalu, ketika pesawat tempur dan rudal Amerika sempat bergabung dalam perang udara singkat Israel melawan Iran. Ia menegaskan bahwa respons kali ini akan menjadi respons yang tegas dan "dilakukan secara instan."

Akraminia mengatakan kepada televisi pemerintah Iran bahwa kapal induk AS memiliki "kerentanan serius" dan bahwa banyak pangkalan militer Amerika di wilayah Teluk berada "dalam jangkauan rudal jarak menengah kami."

"Jika kesalahan perhitungan seperti itu dilakukan oleh Amerika, itu tentu tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Trump — melakukan operasi cepat dan kemudian, dua jam kemudian, membuat cuitan bahwa operasi telah selesai," pungkasnya.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Lebanon Berdarah Ribuan Jiwa Melayang

27-03-2026 - 07.30

Keputusan Mengejutkan Trump Soal Iran

27-03-2026 - 07.15

Terkuak Serangan Iran Sasar Siapa Sebenarnya

27-03-2026 - 07.00

Ribuan Nyawa Melayang di Lebanon Israel Terus Menyerang

27-03-2026 - 03.15

Trump Ungkap Strategi Berani Rebut Minyak Iran

27-03-2026 - 03.00

Terkuak Angka Fantastis Pengungsi Iran Lebanon

26-03-2026 - 23.00
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.