Internationalmedia.co.id – News Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Republik Islam Iran mengeluarkan peringatan keras, menyatakan akan membalas dengan ‘ganas’ setiap serangan dari Amerika Serikat, termasuk yang bersifat terbatas. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam sebuah pengarahan di Teheran pada Senin (23/2), menegaskan kembali posisi negaranya. Ia menyatakan, "Serangan apa pun, bahkan yang terbatas, akan kami anggap sebagai tindakan agresi. Titik." Baqaei menambahkan, "Setiap negara memiliki hak inheren untuk membela diri dari tindakan agresi, dan itulah yang akan kami lakukan, membalas dengan ganas," seperti dilansir kantor berita AFP.

Sebelumnya, pada Jumat lalu, Presiden Trump mengonfirmasi kepada wartawan bahwa ia sedang ‘mempertimbangkan’ serangan terbatas jika Iran gagal mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya dengan Amerika Serikat. Langkah ini sejalan dengan peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, yang bertujuan untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan nuklir yang baru.
Di tengah memanasnya retorika, upaya diplomatik tetap berlangsung. Kedua negara baru saja menyelesaikan putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Swiss pada Selasa lalu, dengan mediasi dari Oman. Pembicaraan lanjutan, yang telah dikonfirmasi oleh Iran dan Oman, dijadwalkan akan kembali digelar pada Kamis mendatang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memimpin delegasi Iran, sementara pihak AS diwakili oleh utusan khusus untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner.
Dengan ancaman serangan dan balasan yang semakin keras, serta perundingan yang masih berjalan, masa depan hubungan AS-Iran dan stabilitas di Timur Tengah tetap berada di ujung tanduk.

