Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas gas di sejumlah negara Teluk. Aksi ini merupakan respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars milik Iran, yang memicu kebakaran dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik regional.
Serangan awal yang menyulut api konflik terjadi pada Kamis (19/3/2026) dini hari, ketika proyektil AS-Zionis menghantam fasilitas gas di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars, Asaluyeh, provinsi Bushehr. Insiden ini menyebabkan kebakaran hebat di ladang gas yang merupakan bagian dari cadangan gas terbesar di dunia dan menyuplai sekitar 70% kebutuhan domestik Iran. Wakil Gubernur Bushehr, Ehsan Jahanian, mengonfirmasi insiden tersebut melalui televisi pemerintah, menambahkan bahwa Israel juga pernah menyerang fasilitas Iran di ladang yang sama pada Juni 2025.

Menanggapi situasi ini, Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan ketidaktahuannya mengenai serangan spesifik Israel terhadap South Pars. Namun, ia mengeluarkan ancaman keras: jika Iran membalas dengan menyerang pihak tak bersalah seperti Qatar, AS akan "menghancurkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran" dengan kekuatan yang belum pernah Iran saksikan. Trump juga mengkritik Israel karena tindakannya yang mendorong Iran menargetkan lokasi energi di Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Tak butuh waktu lama, Iran menunjukkan responsnya. Qatar menjadi salah satu target utama. Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan kebakaran besar di Kota Industri Ras Laffan, yang menargetkan fasilitas gas alam cair (LNG) dan Pearl GTL milik QatarEnergy. Meskipun tim pertahanan sipil berhasil mengendalikan api dan tidak ada korban jiwa, Qatar mengecam keras serangan Iran sebagai pelanggaran "semua garis merah" yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur vital.
Uni Emirat Arab (UEA) juga merasakan dampak balasan Iran. Fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab menjadi sasaran. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan ini sebagai "eskalasi berbahaya" yang melanggar prinsip-prinsip hukum internasional. Pertahanan udara UEA berhasil mencegat proyektil, dan tidak ada korban dilaporkan. UEA menegaskan haknya untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasionalnya, sembari menyoroti ancaman terhadap stabilitas regional dan pasar energi global yang ditimbulkan oleh penargetan infrastruktur energi vital.
Ladang gas South Pars/North Dome, yang dibagi antara Iran dan Qatar, adalah cadangan gas alam terbesar di dunia, menyimpan sekitar 1.800 triliun kaki kubik gas—cukup untuk memenuhi kebutuhan global selama 13 tahun. Serangan terhadap infrastruktur vital semacam ini bukan hanya konflik lokal, melainkan berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperdalam ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

