Israel telah menyiapkan rencana operasional terperinci untuk melanjutkan konflik bersenjata dengan Iran setidaknya selama tiga minggu ke depan. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran kini telah memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda mereda. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News yang mengutip Al Arabiya pada Selasa (17/3/2026), rencana ini juga mencakup strategi lanjutan yang lebih jauh ke depan, menunjukkan kesiapan Tel Aviv untuk eskalasi berkelanjutan.
Dampak dari perang ini telah terasa secara global, terutama dengan penutupan Selat Hormuz. Jalur perairan vital ini, yang menjadi urat nadi bagi sekitar 20 persen lalu lintas minyak dan gas alam cair dunia, kini lumpuh. Konsekuensinya, harga minyak melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan gelombang inflasi global yang baru.

Menyikapi situasi kritis ini, Presiden AS Donald Trump pada Minggu (15/3) lalu mendesak pembentukan koalisi negara-negara untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Trump bahkan melontarkan peringatan keras bahwa aliansi NATO menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika anggotanya tidak segera membantu Washington dalam upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dalam sebuah pengarahan pada Senin (16/3), Juru Bicara Militer Israel, Nadav Shoshani, mengonfirmasi kepada wartawan bahwa rencana operasional terperinci untuk perang dengan Iran telah disiapkan untuk tiga minggu ke depan. Ia menegaskan, fokus utama militer Israel adalah melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam Israel, dengan menargetkan infrastruktur rudal balistik, fasilitas nuklir, dan seluruh aparat keamanan.
"Kami ingin memastikan bahwa rezim ini selemah mungkin, dan bahwa kami melemahkan semua kemampuan mereka, semua bagian dan semua sayap lembaga keamanan mereka," kata Shoshani, menggarisbawahi tekad Israel untuk melumpuhkan kekuatan Iran secara menyeluruh.
Dengan lebih dari 110.000 pasukan cadangan yang telah dimobilisasi, militer Israel menyatakan masih menyimpan daftar ribuan target yang siap diserang di dalam wilayah Iran, menandakan potensi eskalasi yang signifikan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin (16/3) membantah klaim mengenai kemungkinan gencatan senjata. Menurut laporan media semi-resmi Iran, Student News Network, Teheran belum mengajukan permintaan gencatan senjata atau bertukar pesan dengan Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda untuk mengakhiri konflik.

