Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki keinginan kuat agar konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia dapat diakhiri pada bulan Juni mendatang. Informasi ini, yang dilansir oleh AFP pada Minggu (8/2/2026), juga menyebutkan tawaran AS untuk menjadi tuan rumah perundingan damai. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa tawaran ini datang sebagai bagian dari upaya intensif untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Dalam keterangannya kepada wartawan yang dipublikasikan Sabtu pagi, Zelensky membeberkan detail tawaran tersebut. "Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengusulkan agar kedua tim negosiasi – Ukraina dan Rusia – bertemu di Amerika Serikat, kemungkinan di Miami, dalam waktu seminggu," kata Zelensky. Ia menambahkan, "Mereka mengatakan bahwa mereka ingin menyelesaikan semuanya pada bulan Juni."

Upaya diplomatik yang dipimpin AS untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II ini memang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Namun, Moskow dan Kyiv masih berselisih tajam mengenai isu kunci: wilayah.
Rusia, yang saat ini menduduki sekitar 20 persen wilayah tetangganya, bersikeras untuk menguasai sepenuhnya wilayah Donetsk timur Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan damai apa pun. Bahkan, Moskow telah mengancam akan merebutnya dengan kekerasan jika perundingan gagal mencapai kesepakatan.
Sebaliknya, Ukraina dengan tegas menyatakan bahwa menyerahkan wilayah hanya akan memberikan keberanian lebih lanjut kepada Moskow untuk melakukan agresi di masa depan. Kyiv juga telah memberi sinyal jelas bahwa mereka tidak akan menandatangani perjanjian apa pun yang gagal mencegah Rusia untuk menyerang lagi di kemudian hari.
Sebelumnya, AS telah memediasi dua putaran negosiasi antara kedua belah pihak di Abu Dhabi sejak Januari. Meskipun berhasil menengahi pertukaran tahanan besar-besaran, perundingan tersebut gagal mencapai terobosan signifikan dalam masalah wilayah yang menjadi inti konflik. Baik Moskow maupun Kyiv mengakui bahwa pembicaraan berjalan sulit, mengindikasikan tantangan besar yang masih harus dihadapi. (internationalmedia.co.id/internationalmedia.co.id)

