Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru-baru ini mengklaim telah melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Dalam pernyataan yang dirilis IRGC dan dikutip oleh kantor berita Iran seperti Fars dan Mehr, setidaknya dua rudal dilaporkan menghantam Kamp Arifjan, sebuah fasilitas militer penting AS yang berlokasi di selatan Kuwait City. Klaim ini menjadi indikasi terbaru eskalasi konflik di kawasan yang tengah bergejolak.
Hingga saat ini, otoritas Kuwait belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim spesifik IRGC mengenai serangan rudal tersebut. Namun, Garda Nasional Kuwait, seperti dilansir Al Jazeera, sebelumnya telah mengumumkan keberhasilan pasukannya menembak jatuh delapan drone. Insiden ini disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat keamanan, melindungi lokasi-lokasi vital, dan menghadapi potensi ancaman. Serangan ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, menyusul serangan gabungan skala besar oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke target-target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Gelombang serangan balasan dari Iran dilaporkan telah menyebabkan kerusakan pada beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah. Meskipun sebagian besar rudal dan drone Teheran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, laporan dari kantor berita Xinhua menunjukkan bahwa Kuwait menjadi negara yang paling parah terkena dampaknya.
Citra satelit yang dianalisis oleh Planet Labs mengungkapkan adanya kerusakan signifikan pada infrastruktur Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, lokasi penempatan pasukan AS. Belasan bangunan, fasilitas perlindungan pesawat, dan area di sekitar landasan pacu terlihat mengalami kerusakan pasca-serangan Iran yang terjadi pada akhir pekan. Lebih lanjut, di Kamp Arifjan, yang berfungsi sebagai pusat logistik utama AS di Kuwait, laporan Xinhua menyebutkan bahwa setidaknya enam kubah radar komunikasi satelit hancur. Kerusakan ini diperkirakan akan berdampak pada jaringan Komando Pusat AS (CENTCOM), yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer AS di seluruh Timur Tengah.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di area Kamp Buehring, dengan penemuan banyak kawah akibat serangan udara dan beberapa area yang tampak hangus terbakar. Insiden paling tragis di Kuwait terjadi di area Pelabuhan Shuaiba pada 1 Maret lalu, di mana sebuah pusat komando darurat AS menjadi sasaran serangan drone mematikan, menewaskan enam tentara Amerika Serikat.
Kementerian Pertahanan Kuwait sendiri telah mengumumkan bahwa ratusan drone dan rudal berhasil dicegat sejak Iran memulai gelombang serangan pembalasan terhadap gempuran AS dan Israel. Situasi ini menggarisbawahi intensitas konflik dan kesiagaan pertahanan di wilayah tersebut.

