Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home ยป Serangan Rusia Bekukan Ukraina Negosiasi Terancam
Trending Indonesia

Serangan Rusia Bekukan Ukraina Negosiasi Terancam

GunawatiBy Gunawati04-02-2026 - 10.00Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Serangan Rusia Bekukan Ukraina Negosiasi Terancam
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Rusia kembali melancarkan serangan masif terhadap infrastruktur energi vital Ukraina. Gempuran ini, yang terjadi di tengah suhu ekstrem, telah menjerumuskan ratusan ribu warga ke dalam kedinginan tanpa pemanas, tepat menjelang putaran kedua perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat.

Serangan brutal yang terjadi pada Selasa malam itu bertepatan dengan penurunan suhu hingga titik terendah sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Di kota Zaporizhzhia, Ukraina selatan, dua remaja dilaporkan tewas, dan sebuah monumen era Soviet peninggalan Perang Dunia II turut mengalami kerusakan parah akibat ledakan.

Serangan Rusia Bekukan Ukraina Negosiasi Terancam
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Insiden ini terjadi hanya sehari sebelum delegasi Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi untuk melanjutkan pembicaraan damai yang difasilitasi AS. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, segera mengecam keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai upaya teror.

"Memanfaatkan hari-hari terdingin di musim dingin untuk meneror rakyat lebih penting bagi Rusia daripada beralih ke jalur diplomasi," ujar Zelensky, seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/2/2026). Ia menambahkan bahwa Moskow "sekali lagi mengabaikan upaya yang telah dilakukan oleh pihak Amerika."

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendesak Vladimir Putin untuk segera mengakhiri konflik. Trump juga menyatakan "keinginannya" agar Rusia memperpanjang penghentian sementara serangan, mengingat kondisi suhu yang sangat dingin. Senada, Kepala NATO, Mark Rutte, yang kebetulan sedang berada di Kyiv pada Selasa, menegaskan bahwa "serangan Rusia seperti tadi malam sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dalam mencapai perdamaian."

Selama kunjungan Rutte, sirene peringatan serangan udara meraung di seluruh Kyiv. Jurnalis AFP melaporkan mendengar serangkaian ledakan di ibu kota sepanjang malam. Ratusan ribu penduduk di berbagai bangunan terbangun dalam kegelapan dan kedinginan, mendapati sistem pemanas mereka mati total, sementara suhu anjlok hingga mendekati minus 20 derajat Celcius. Menteri Restorasi, Oleksiy Kuleba, mengonfirmasi bahwa "lebih dari 1.100 bangunan tempat tinggal masih belum memiliki pemanas hingga Selasa malam."

Di tengah kekacauan, beberapa warga terlihat berkumpul di sekitar reruntuhan bangunan, melangkahi puing-puing yang berserakan dan lapisan es tebal yang menyelimuti tanah. "Jendela kami pecah dan kami tidak punya pemanas," keluh Anastasia Grytsenko, seorang warga. "Kami benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang," tambahnya dengan nada putus asa.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah melancarkan "serangan besar-besaran" yang menargetkan "perusahaan kompleks industri militer Ukraina dan fasilitas energi."

Pekan lalu, Rusia sempat menyatakan telah menyetujui permintaan AS untuk menangguhkan serangan di Kyiv selama tujuh hari, yang berakhir pada Minggu. Ukraina memang tidak melaporkan adanya serangan besar di ibu kota selama periode tersebut, namun tetap mengecam gempuran yang terus berlanjut di wilayah lain. Menteri Energi Denys Shmygal mengungkapkan bahwa "beberapa jenis rudal balistik dan jelajah, serta drone, digunakan untuk menyerang gedung-gedung tinggi dan pembangkit listrik tenaga termal."

"Ratusan ribu keluarga, termasuk anak-anak, sengaja dibiarkan tanpa pemanas di tengah cuaca dingin yang ekstrem," lanjut Shmygal. Penyedia energi swasta terbesar Ukraina mengonfirmasi bahwa serangan pada Selasa terhadap fasilitas energi ini adalah "yang paling dahsyat" sejak awal tahun 2026, memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Israel Akui Bunuh Menteri Intelijen Iran Dunia Menanti Reaksi

18-03-2026 - 18.30

Iran Geger Penangkapan Besar Besaran

18-03-2026 - 18.00

Beirut Berdarah Dini Hari

18-03-2026 - 16.45

Pangkalan Australia di UEA Diserang Proyektil Iran Ini Faktanya

18-03-2026 - 16.30

BBM Langka Negara Tetangga Indonesia Libur Tiap Rabu

18-03-2026 - 16.15

Peluru Nyasar Menggemparkan Korsel Militer Langsung Ambil Tindakan

18-03-2026 - 16.00
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.