Sebuah insiden tak terduga mengguncang dunia penyiaran Iran. Otoritas di Teheran dilaporkan telah memberhentikan seorang direktur televisi lokal menyusul kesalahan fatal yang dilakukan salah satu reporternya saat siaran langsung. Reporter tersebut secara keliru menyerukan ‘Matilah Khamenei’, sebuah frasa yang sangat sensitif di negara itu, alih-alih slogan-slogan pro-pemerintah yang biasa. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa kejadian ini berujung pada konsekuensi serius bagi jajaran manajemen dan staf terkait.
Insiden yang memicu kegaduhan ini terjadi pada Rabu (11/2) waktu setempat, saat siaran langsung peringatan 47 tahun Revolusi Islam di Provinsi Sistan-Baluchistan, wilayah tenggara Iran. Reporter televisi provinsi Hamoun, Musab Rasoulizad, sedang melaporkan jumlah peserta aksi massa dan mengulang seruan-seruan yang menggema dari kerumunan, seperti ‘Allahu Akbar’.

Namun, dalam momen yang krusial, Rasoulizad justru menyerukan ‘Marg bar Khamenei’ yang berarti ‘Matilah Khamenei’. Ini sangat kontras dengan seruan-seruan lazim yang biasa terdengar dalam aksi massa yang didukung pemerintah, seperti ‘Matilah Amerika’ atau ‘Matilah Israel’. Kesalahan ucapan ini segera menjadi sorotan dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Dampak dari kesalahan fatal ini tidak main-main. Otoritas Iran langsung memberhentikan direktur televisi Hamoun dan menjatuhkan sanksi disiplin terhadap individu-individu yang terlibat dalam proses siaran langsung tersebut. Televisi pemerintah Iran, dalam pengumuman resminya pada Rabu (11/2), menyatakan bahwa "Direktur siaran saluran TV provinsi Hamoun telah dipecat menyusul kesalahan yang terjadi di jaringan provinsi." Identitas direktur yang dipecat tidak disebutkan.
Selain itu, operator transmisi dan pengawas siaran juga dinonaktifkan, sementara staf lainnya yang terbukti bersalah dirujuk ke komite disiplin. Keputusan ini, menurut pengumuman tersebut, diambil untuk "menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media" di Iran.
Dalam sebuah video yang dirilis pasca-insiden, reporter Musab Rasoulizad tampak menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia menyebut insiden tersebut sebagai "kesalahan ucapan dan kekeliruan yang disiarkan dan menjadi dalih bagi anti-revolusioner", mencoba meredakan ketegangan yang muncul.
Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah gelombang unjuk rasa antipemerintah berskala besar melanda berbagai wilayah Iran. Awalnya dipicu oleh protes kenaikan biaya hidup, demonstrasi tersebut kemudian meluas menjadi tuntutan untuk lengsernya pemerintahan ulama di negara tersebut.
Unjuk rasa tersebut diwarnai kerusuhan dan penindakan keras oleh aparat Teheran terhadap demonstran. Otoritas Iran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan, dan mengaitkan kematian itu dengan "tindakan teroris" asing. Namun, data dari organisasi-organisasi internasional, seperti Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, melaporkan jumlah korban yang jauh lebih tinggi, yakni sedikitnya 7.002 orang, termasuk 6.506 demonstran, tewas selama unjuk rasa berlangsung.

