Ketegangan global memuncak setelah sebuah kapal selam Amerika Serikat dikonfirmasi menenggelamkan fregat Iran, IRIS Dena, di Samudra Hindia. Insiden yang diwarnai serangan torpedo mematikan ini, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News, mengakibatkan hilangnya 148 pelaut dan hanya menyisakan 32 awak yang berhasil diselamatkan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan tegas memuji operasi ini sebagai bukti nyata jangkauan militer Amerika di seluruh dunia dalam konflik melawan Iran. Hegseth menyatakan, "Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo." Ia menambahkan bahwa serangan ini adalah "kematian senyap" dan penenggelaman kapal musuh pertama oleh AS dengan torpedo sejak Perang Dunia II, menegaskan tekad AS untuk menang. Pentagon juga menggarisbawahi bahwa melenyapkan angkatan laut Iran adalah salah satu tujuan utama perang AS-Israel.

Otoritas Sri Lanka bergerak cepat merespons tragedi ini. Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, melaporkan kepada parlemen bahwa 32 awak kapal dari fregat IRIS Dena berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke rumah sakit utama di selatan pulau itu. Namun, harapan tipis menyelimuti nasib 148 pelaut lainnya yang masih dinyatakan hilang. Dua kapal angkatan laut dan sebuah pesawat telah dikerahkan dalam operasi pencarian besar-besaran.
Fregat nahas tersebut diketahui mengirimkan panggilan darurat pada Rabu (4/3/2026) dini hari, dan dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah kapal penyelamat telah mencapai lokasi sekitar 40 kilometer selatan pelabuhan Galle. Sayangnya, kapal fregat itu telah tenggelam sepenuhnya, hanya menyisakan bercak minyak di permukaan laut. Juru bicara angkatan laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, menegaskan bahwa operasi mereka sesuai dengan kewajiban maritim internasional, karena insiden terjadi di area pencarian dan penyelamatan mereka di Samudra Hindia. "Kami telah menemukan beberapa jenazah dari daerah tempat kapal itu tenggelam," imbuh Sampath. Sri Lanka sendiri tetap menjaga posisi netralnya dalam konflik Timur Tengah, mengingat lebih dari satu juta warganya bekerja di kawasan tersebut, yang menjadi sumber devisa penting bagi negara.
Pihak kepolisian meningkatkan keamanan di luar rumah sakit Galle saat para awak Iran yang terluka dibawa oleh angkatan laut setempat. Sementara itu, Duta Besar Iran di Kolombo, Alireza Delkhosh, belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar resmi terkait insiden ini. Baik angkatan laut maupun angkatan udara Sri Lanka juga menolak merilis rekaman penyelamatan, dengan alasan melibatkan militer negara lain, menambah selubung misteri di balik tragedi yang mengguncang Samudra Hindia ini.

