Ketegangan global mencapai titik didih setelah salah satu kapal perang Iran tenggelam akibat serangan torpedo kapal selam Amerika Serikat di Samudra Hindia. Teheran dengan tegas menyatakan Washington akan "sangat menyesali" tindakan tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini memicu kecaman keras dari Iran, yang menuduh AS melakukan kekejaman di perairan internasional tanpa peringatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis (5/3/2026), melontarkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat. Menurut Araghchi, AS telah melakukan tindakan keji dengan menenggelamkan kapal Angkatan Laut Iran di lepas pantai Sri Lanka. Ia menekankan bahwa serangan itu terjadi di perairan internasional, jauh dari pantai Iran, dan tanpa adanya peringatan sebelumnya, menciptakan preseden berbahaya.

"AS telah melakukan kekejaman di laut, 2.000 mil jauhnya dari pantai Iran. Fregat Dena, tamu Angkatan Laut India yang membawa hampir 130 pelaut, dihantam di perairan internasional tanpa peringatan," kecam Araghchi dalam pernyataan via media sosial X. Ia menambahkan peringatan tegas, "Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang telah ditetapkannya."
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya telah mengonfirmasi insiden tersebut. Hegseth menyatakan bahwa sebuah kapal selam Amerika berhasil menenggelamkan kapal perang Iran yang "mengira mereka aman di perairan internasional." Ia menggambarkan serangan itu sebagai "kematian senyap" dan menandai penenggelaman kapal musuh pertama oleh AS dengan torpedo sejak Perang Dunia II.
Kapal perang Iran yang menjadi sasaran serangan torpedo AS diidentifikasi sebagai IRIS Dena. Insiden tragis ini terjadi saat kapal tersebut berlayar setelah dilaporkan mengikuti latihan militer di pelabuhan Visakhapatnam, India bagian timur.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, mengungkapkan bahwa IRIS Dena sempat mengirimkan panggilan darurat saat fajar. Namun, kapal tersebut tenggelam sepenuhnya dalam waktu satu jam setelah serangan, menyisakan bercak minyak di permukaan laut. Serangan itu, menurut Angkatan Laut Sri Lanka, terjadi di perairan berjarak 40 kilometer sebelah selatan Galle.
Angkatan Laut Sri Lanka telah mengevakuasi 87 jenazah dari kapal perang yang karam tersebut. Sementara itu, juru bicara kepolisian setempat dan Angkatan Laut Sri Lanka menambahkan bahwa sedikitnya 61 personel lainnya masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilakukan. Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, secara terpisah mengumumkan bahwa pasukan Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 personel, yang sebagian besar mengalami luka-luka dan kini mendapatkan perawatan medis di sebuah rumah sakit di kota Galle. Insiden ini tidak hanya memicu krisis diplomatik yang serius tetapi juga meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di perairan internasional.

