Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan seputar pengendalian senjata nuklir kembali memanas setelah perjanjian kunci antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia, New START, resmi berakhir. Rusia menegaskan kesediaannya untuk tetap mematuhi pembatasan senjata nuklir, namun dengan satu syarat krusial: Amerika Serikat harus melakukan hal yang sama. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran global akan potensi perlombaan senjata baru yang tak terkendali.
Traktat New START, yang merupakan pakta terakhir yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang ditempatkan oleh Washington dan Moskow, telah kedaluwarsa pada awal bulan ini. Sebelumnya, tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin untuk perpanjangan satu tahun atas batasan persenjataan nuklir masing-masing pihak tidak direspons oleh Washington, memicu spekulasi mengenai masa depan stabilitas strategis global.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengklarifikasi posisi Moskow. Ia menyatakan bahwa Rusia tidak terburu-buru untuk mengembangkan atau menempatkan senjata nuklir tambahan. Lavrov menarik kembali komentar sebelumnya dari kementeriannya yang mengindikasikan Rusia tidak lagi terikat oleh ketentuan perjanjian tersebut. "Kami berpegang pada fakta bahwa moratorium ini, yang diumumkan oleh presiden kami, tetap berlaku, tetapi hanya selama Amerika Serikat tidak melampaui batasan yang telah ditetapkan," tegas Lavrov dalam pidatonya di parlemen Rusia, seperti dilansir kantor berita AFP.
Baik Rusia maupun Amerika Serikat telah mengisyaratkan keinginan untuk mencapai kesepakatan pengendalian senjata yang baru. Namun, perbedaan pandangan mengenai cakupan perjanjian menjadi hambatan utama. Washington mendesak agar Tiongkok, dengan persenjataan nuklirnya yang terus berkembang, dilibatkan dalam pembicaraan tersebut.
Menanggapi desakan tersebut, Moskow mengajukan syarat balasan yang tidak kalah penting. Jika Tiongkok diikutsertakan dalam kesepakatan baru, maka sekutu-sekutu nuklir Amerika Serikat seperti Inggris dan Prancis juga harus dilibatkan. Ini menunjukkan kompleksitas negosiasi yang melibatkan lebih dari sekadar dua kekuatan utama.
Berakhirnya Traktat New START, yang membatasi AS dan Rusia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan, menandai momen bersejarah. Ini adalah kali pertama dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian formal yang membatasi penempatan senjata paling destruktif di planet ini, memicu kekhawatiran serius akan potensi perlombaan senjata global.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pernah mengkritik New START sebagai perjanjian yang "dinegosiasikan dengan buruk" dan "dilanggar secara terang-terangan." Pada tahun 2023, di tengah meningkatnya ketegangan terkait konflik di Ukraina, Rusia menolak inspeksi situs-situs nuklirnya di bawah perjanjian tersebut. Meskipun demikian, Rusia tetap menegaskan komitmennya terhadap batasan kuantitatif yang telah disepakati, menjaga harapan tipis untuk dialog di tengah ketidakpastian geopolitik.

