Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di perbatasan Afghanistan dan Pakistan kembali memuncak pada Jumat (27/2/2026) setelah serangkaian serangan udara Pakistan memicu balasan sengit dari pemerintahan Taliban. Klaim korban jiwa yang sangat kontras muncul dari kedua belah pihak, dengan Pakistan melaporkan tewasnya 133 petempur Taliban, sementara Afghanistan mengklaim 55 tentara Pakistan gugur dalam retaliasi.
Serangan udara Pakistan, yang dilancarkan pada Jumat pagi, menargetkan sejumlah provinsi di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, Kandahar, dan Paktia. Islamabad menyatakan tindakan ini sebagai respons terhadap "serangan tanpa provokasi" yang dilakukan pasukan Taliban Afghanistan sehari sebelumnya, Kamis (26/2), di sektor Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur. Juru bicara kantor Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, mengklaim bahwa operasi militer mereka berhasil menghancurkan 27 pos Taliban, merebut sembilan lainnya, serta melumpuhkan lebih dari 80 unit tank, artileri, dan kendaraan pengangkut personel bersenjata. Pakistan menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas wilayah dan keamanan warganya.

Menanggapi gempuran tersebut, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengumumkan dimulainya "operasi pembalasan besar-besaran" yang menargetkan pusat-pusat militer Pakistan dari Kandahar dan Helmand. Wakil juru bicara pemerintah Taliban, Hamdullah Fitrat, kemudian mengklaim bahwa pasukan Afghanistan telah menewaskan 55 tentara Pakistan, menangkap beberapa di antaranya, dan merebut 19 pos militer. Meskipun Mujahid awalnya menyatakan tidak ada korban jiwa dari pihak Afghanistan akibat serangan Pakistan, Kementerian Pertahanan Afghanistan kemudian melaporkan delapan tentaranya tewas dan sebelas lainnya luka-luka. Mirisnya, sekitar 13 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, juga dilaporkan terluka akibat serangan Pakistan yang menghantam kamp pengungsi di Nangarhar. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, memberikan angka yang lebih rendah untuk korban di pihaknya, yakni dua tentara tewas dan tiga luka-luka.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah periode gencatan senjata yang rapuh, yang dimediasi oleh Qatar dan Turki, berlaku sejak Oktober tahun lalu. Gencatan senjata tersebut diharapkan dapat meredakan gelombang kekerasan lintas perbatasan yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir antara kedua negara tetangga tersebut, namun kini tampaknya telah runtuh.
Dengan klaim korban yang saling bertolak belakang dan retorika yang semakin memanas, situasi di perbatasan Afghanistan-Pakistan tetap tegang. Islamabad bersikeras akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan dan warga negaranya, sementara Kabul bersumpah akan terus membalas setiap agresi. Dunia kini menanti, apakah konflik ini akan semakin meluas ataukah upaya diplomasi dapat kembali meredakan bara api di perbatasan.

